{"id":1134,"date":"2026-08-26T06:33:12","date_gmt":"2026-08-26T06:33:12","guid":{"rendered":"https:\/\/uniqu.co.id\/?p=1134"},"modified":"2026-08-26T06:33:12","modified_gmt":"2026-08-26T06:33:12","slug":"kiat-menjaga-kemandirian-membaca-zaman-dan-tetap-menjadi-manusia-yang-berdaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/2026\/08\/26\/kiat-menjaga-kemandirian-membaca-zaman-dan-tetap-menjadi-manusia-yang-berdaya\/","title":{"rendered":"Kiat Menjaga Kemandirian, Membaca Zaman, dan Tetap Menjadi Manusia yang Berdaya"},"content":{"rendered":"<p>Ada zaman ketika menjadi warga negara terasa sederhana. Kita bekerja, mencari nafkah, membayar kewajiban, mendidik anak, menghormati hukum, lalu berharap negara berjalan sebagaimana mestinya. Tetapi zaman telah berubah. Hari ini, kehidupan seorang warga negara tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di lingkungan rumah atau tempat kerja. Harga pangan dapat dipengaruhi perang di belahan dunia lain. Pekerjaan dapat berubah karena kecerdasan buatan. Harga komoditas dipengaruhi pasar global. Keputusan pemerintah tentang energi, pajak, investasi, sumber daya alam, pendidikan, hingga teknologi dapat langsung terasa di meja makan keluarga. Pada saat yang sama, ruang digital membuat setiap orang bukan hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga sekaligus produsen opini. Dalam situasi seperti ini, menjadi warga negara membutuhkan kemampuan yang lebih besar daripada sekadar mengetahui hak dan kewajiban. Kita membutuhkan <strong>kesadaran, kecakapan, ketahanan, dan kebijaksanaan untuk membaca zaman.<\/strong><\/p>\n<p>Perbincangan mengenai ketimpangan yang mengemuka dalam forum akademik internasional seperti IFAR Consortium Conference 2026 menjadi salah satu cermin penting bagi Indonesia. Persoalannya bukan semata-mata tentang siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Persoalannya adalah bagaimana kesempatan ekonomi, kepemilikan aset, pendidikan, teknologi, informasi, bahkan akses terhadap pengambilan keputusan dapat tersebar secara adil. Sebuah bangsa dapat mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi, membangun jalan, pelabuhan, kawasan industri, smelter dan pusat-pusat ekonomi baru, tetapi pertanyaan terpenting tetap sama: <strong>sejauh mana pertumbuhan itu membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik?<\/strong> Sebab pembangunan yang hanya menghasilkan angka pertumbuhan belum tentu menghasilkan mobilitas sosial. Negara mungkin semakin besar secara ekonomi, tetapi apabila kesempatan untuk menjadi besar hanya dimiliki oleh kelompok tertentu, maka masyarakat akan merasakan adanya jarak antara statistik pembangunan dan realitas kehidupan.<\/p>\n<p>Di sinilah kita perlu memahami bahwa ketimpangan bukan hanya persoalan ekonomi. Ketimpangan dapat berkembang menjadi persoalan psikologis, sosial dan politik. Ketika seseorang merasa bekerja keras tetapi tidak memiliki kesempatan untuk naik kelas, sementara sebagian kecil masyarakat terlihat memperoleh akses yang jauh lebih besar terhadap kekayaan dan kekuasaan, maka yang tumbuh bukan hanya kecemburuan sosial, melainkan juga rasa ketidakadilan. Apabila rasa tersebut berlangsung lama, kepercayaan kepada institusi dapat melemah. Masyarakat mulai bertanya apakah hukum benar-benar berlaku sama, apakah kesempatan benar-benar terbuka, dan apakah negara benar-benar hadir untuk semua. Pada titik itulah ketimpangan ekonomi dapat berubah menjadi persoalan legitimasi demokrasi.<\/p>\n<p>Namun ada pelajaran yang sangat penting bagi kita sebagai warga negara. <strong>Jangan menjadikan ketimpangan sebagai alasan untuk kehilangan daya juang.<\/strong> Kita memang harus menuntut sistem yang lebih adil, tetapi pada saat yang sama kita harus membangun kemampuan untuk menghadapi dunia yang nyata. Kita tidak boleh menunggu dunia berubah menjadi sempurna sebelum mulai memperbaiki kehidupan sendiri. Negara mempunyai tanggung jawab menciptakan lapangan permainan yang adil, tetapi warga mempunyai tanggung jawab untuk memperkuat dirinya agar mampu bermain dan memenangkan masa depan melalui cara-cara yang bermartabat.<\/p>\n<p>Karena itu, kiat pertama bagi warga negara di zaman ini adalah <strong>jangan berhenti belajar<\/strong>. Pendidikan tidak boleh berhenti ketika seseorang mendapatkan ijazah atau pekerjaan. Dunia bergerak terlalu cepat untuk itu. Teknologi mengubah cara perusahaan bekerja, kecerdasan buatan mengubah berbagai profesi, perdagangan global mengubah struktur industri, dan ekonomi digital menciptakan pekerjaan yang mungkin belum dikenal satu dekade lalu. Dalam keadaan seperti ini, keterampilan belajar menjadi aset yang sangat berharga. Orang yang mampu belajar ulang, beradaptasi, dan mengembangkan kemampuan baru akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Bahkan ketika pekerjaan berubah, ia masih memiliki kemampuan untuk menciptakan jalan baru.<\/p>\n<p>Belajar juga tidak harus selalu berarti kembali ke bangku kuliah. Belajar dapat dimulai dari membaca buku, mengikuti kursus, memahami teknologi, belajar mengelola keuangan, memperbaiki kemampuan komunikasi, memahami bahasa asing, mempelajari kecerdasan buatan, mengenal pemasaran digital, memahami data, atau sekadar membangun kebiasaan membaca informasi secara lebih kritis. Di tengah perubahan yang begitu cepat, <strong>kemampuan untuk berkata \u201csaya belum tahu, tetapi saya mau belajar\u201d justru merupakan kekuatan.<\/strong> Kita tidak perlu mengetahui semuanya. Kita hanya perlu memiliki kerendahan hati untuk terus berkembang.<\/p>\n<p>Kiat kedua adalah <strong>mengubah cara memandang pekerjaan<\/strong>. Selama ini banyak orang melihat pekerjaan hanya sebagai sumber penghasilan bulanan. Cara pandang itu perlu diperluas. Pekerjaan harus menjadi tempat membangun kompetensi, reputasi, jaringan, pengalaman dan nilai tambah. Gaji memang penting, tetapi kemampuan yang kita bangun selama bekerja sering kali jauh lebih menentukan masa depan. Jangan hanya bertanya, \u201cBerapa saya mendapatkan bulan ini?\u201d tetapi juga bertanya, \u201cApa yang menjadi lebih berharga dari diri saya setelah satu tahun bekerja?\u201d Jika kemampuan kita meningkat, maka nilai tawar kita juga meningkat.<\/p>\n<p>Kiat ketiga adalah <strong>belajar mengelola uang sebelum berbicara tentang kekayaan<\/strong>. Ketimpangan global dan nasional memang merupakan persoalan struktural, tetapi ketahanan ekonomi keluarga tetap harus dimulai dari kebiasaan sederhana. Jangan membiarkan seluruh pendapatan habis untuk konsumsi. Pahami utang, bangun dana darurat, lindungi keluarga dari risiko finansial, dan secara bertahap bangun aset produktif sesuai kemampuan. Tidak semua orang harus menjadi investor besar atau pengusaha besar. Tetapi setiap orang sebaiknya mempunyai kesadaran bahwa masa depan tidak boleh sepenuhnya bergantung pada pendapatan hari ini.<\/p>\n<p>Di sinilah kita perlu membangun mentalitas yang berbeda: <strong>jangan hanya menjadi konsumen ekonomi, tetapi berusahalah menjadi pelaku ekonomi.<\/strong> Seorang pegawai dapat membangun keahlian. Seorang guru dapat menciptakan karya. Seorang petani dapat meningkatkan nilai tambah produknya. Seorang nelayan dapat membangun jaringan pemasaran. Seorang ibu rumah tangga dapat mengembangkan usaha keluarga. Seorang anak muda dapat membangun bisnis digital. Seorang pekerja dapat mulai memiliki aset secara bertahap. Bentuknya berbeda-beda, tetapi semangatnya sama: memperbesar kemampuan untuk menciptakan nilai.<\/p>\n<p>Kiat keempat adalah <strong>jangan berjalan sendirian<\/strong>. Ketimpangan tidak akan diselesaikan oleh individu yang bekerja sendirian. Manusia mempunyai keterbatasan. Karena itu, kekuatan masyarakat terletak pada kemampuan membangun jaringan dan bekerja bersama. Koperasi, komunitas profesi, organisasi sosial, kelompok usaha, forum warga, komunitas pendidikan dan jaringan kewirausahaan dapat menjadi ruang untuk memperbesar daya tawar. Masyarakat yang terorganisasi dengan baik memiliki posisi yang jauh lebih kuat daripada individu yang berdiri sendirian. Dalam konteks ini, gotong royong bukan sekadar warisan budaya. Ia dapat menjadi <strong>modal ekonomi dan sosial<\/strong> untuk menghadapi persaingan modern.<\/p>\n<p>Kiat kelima adalah <strong>jangan mudah dikendalikan oleh informasi<\/strong>. Inilah salah satu tantangan terbesar warga negara modern. Kita hidup dalam lautan informasi. Setiap hari kita menerima berita, video, komentar, potongan pidato, meme, propaganda, iklan dan opini yang semuanya berusaha mendapatkan perhatian kita. Masalahnya bukan lagi kekurangan informasi. Masalah kita adalah ketidakmampuan membedakan informasi yang benar dari informasi yang sengaja dirancang untuk memengaruhi emosi.<\/p>\n<p>Maka seorang warga negara yang dewasa harus memiliki kebiasaan berhenti sejenak sebelum mempercayai atau menyebarkan sesuatu. Tanyakan sumbernya. Periksa datanya. Cari konteksnya. Bandingkan dengan sumber lain. Bedakan fakta dan opini. Jangan menjadikan kemarahan sebagai bukti kebenaran. Jangan menjadikan viral sebagai ukuran kebenaran. <strong>Tidak semua yang banyak dibagikan layak dipercaya, dan tidak semua yang tidak kita sukai berarti salah.<\/strong><\/p>\n<p>Kiat keenam adalah <strong>belajar memahami politik tanpa menjadi budak politik<\/strong>. Politik bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan kita. Harga pangan, pajak, pendidikan, energi, transportasi, investasi, pertanian, pertambangan, kesehatan dan lapangan kerja semuanya berhubungan dengan keputusan politik. Karena itu, masyarakat tidak boleh apatis. Tetapi keterlibatan politik juga tidak boleh berubah menjadi fanatisme.<\/p>\n<p>Kita boleh mendukung pemerintah ketika kebijakannya benar. Kita boleh mengkritik pemerintah ketika kebijakannya keliru. Kita dapat menghargai seorang pemimpin tanpa harus membenarkan semua keputusannya. Kita dapat berbeda pilihan politik tanpa menjadikan orang lain sebagai musuh. <strong>Demokrasi membutuhkan warga yang berpikir, bukan hanya warga yang bersorak.<\/strong><\/p>\n<p>Kiat ketujuh adalah <strong>belajar membaca kepentingan di balik kebijakan<\/strong>. Ini bukan berarti mencurigai semua orang. Ini berarti membangun kecerdasan publik. Ketika sebuah proyek besar dibangun, kita perlu bertanya manfaatnya bagi masyarakat. Ketika sumber daya alam dikelola, kita perlu melihat siapa yang memperoleh nilai tambah. Ketika investasi masuk, kita perlu bertanya berapa banyak pekerjaan berkualitas yang tercipta. Ketika subsidi diberikan, kita perlu melihat apakah benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan. Ketika regulasi dibuat, kita perlu memahami apakah regulasi tersebut memperkuat kompetisi atau justru menciptakan privilese.<\/p>\n<p>Dengan kemampuan seperti itu, warga tidak mudah terjebak dalam pertentangan sederhana antara \u201cpro pemerintah\u201d dan \u201canti pemerintah\u201d. Kita dapat menilai kebijakan berdasarkan dampaknya. <strong>Kita tidak perlu mencintai atau membenci kebijakan; kita perlu memahami dan mengujinya.<\/strong><\/p>\n<p>Kiat kedelapan adalah <strong>jangan memusuhi orang kaya, tetapi jangan membiarkan kekayaan membeli keadilan<\/strong>. Sebuah bangsa membutuhkan pengusaha, investor dan pemilik modal. Mereka menciptakan perusahaan, teknologi, pekerjaan dan inovasi. Kekayaan yang diperoleh secara sah bukan sesuatu yang harus dicurigai. Yang harus dijaga adalah agar kekayaan tidak berubah menjadi kekuasaan yang dapat membeli aturan, menguasai pasar atau mendapatkan perlakuan khusus.<\/p>\n<p>Di sinilah negara hukum menjadi sangat penting. Orang kaya harus mendapatkan perlindungan hukum yang sama dengan orang miskin. Tetapi orang miskin juga harus memiliki akses terhadap keadilan yang sama dengan orang kaya. <strong>Keadilan bukan berarti semua orang harus mempunyai jumlah kekayaan yang sama. Keadilan berarti setiap orang mempunyai kesempatan yang wajar untuk berkembang dan hukum tidak boleh diperjualbelikan.<\/strong><\/p>\n<p>Kiat kesembilan adalah <strong>memahami bahwa sumber daya alam adalah amanah antargenerasi<\/strong>. Indonesia mempunyai kekayaan alam yang luar biasa. Namun kekayaan tersebut tidak boleh hanya dilihat sebagai barang yang dapat dijual. Ia adalah modal untuk membangun peradaban. Jika nikel hanya menghasilkan mineral, sawit hanya menghasilkan komoditas, laut hanya menghasilkan ikan mentah, dan tanah hanya menghasilkan bahan baku, maka kita kehilangan sebagian besar peluang.<\/p>\n<p>Kita harus mengubah cara berpikir dari <strong>\u201capa yang dapat kita ambil dari alam?\u201d<\/strong> menjadi <strong>\u201cnilai tambah apa yang dapat kita ciptakan dari kekayaan alam tanpa menghancurkan masa depan?\u201d<\/strong> Inilah makna pembangunan berkelanjutan. Anak-anak kita kelak harus menerima bukan hanya hasil pembangunan, tetapi juga lingkungan, pengetahuan, teknologi dan institusi yang lebih baik.<\/p>\n<p>Kiat kesepuluh adalah <strong>menjaga keluarga sebagai pusat ketahanan kehidupan<\/strong>. Di tengah hiruk-pikuk politik dan ekonomi, sering kali kita lupa bahwa ukuran paling nyata dari keberhasilan hidup bukanlah popularitas, jabatan atau jumlah pengikut di media sosial. Pada akhirnya kita kembali ke rumah. Keluarga adalah tempat karakter dibangun, nilai diwariskan dan ketahanan psikologis diperoleh.<\/p>\n<p>Karena itu, jangan sampai kesibukan mengejar keberhasilan membuat kita kehilangan orang-orang yang menjadi alasan kita bekerja. Anak-anak tidak hanya membutuhkan biaya pendidikan; mereka membutuhkan kehadiran. Pasangan tidak hanya membutuhkan penghasilan; mereka membutuhkan perhatian. Orang tua tidak hanya membutuhkan bantuan material; mereka membutuhkan penghormatan. <strong>Negara adalah ruang kehidupan kita, tetapi rumah adalah tempat kehidupan itu benar-benar berlangsung.<\/strong><\/p>\n<p>Kiat kesebelas adalah <strong>jangan kehilangan integritas ketika melihat orang lain menggunakan jalan pintas<\/strong>. Ini mungkin salah satu ujian paling berat. Ketika kita melihat orang lain memperoleh keuntungan melalui koneksi, manipulasi atau praktik tidak sehat, muncul godaan untuk mengatakan, \u201cKalau mereka bisa, mengapa saya tidak?\u201d<\/p>\n<p>Tetapi bangsa yang besar tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu mencari jalan termudah. Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia mempertahankan prinsip bahkan ketika tidak ada yang melihat. Integritas memang tidak selalu memberikan keuntungan tercepat. Tetapi integritas membangun sesuatu yang jauh lebih mahal: <strong>kepercayaan<\/strong>.<\/p>\n<p>Kepercayaan adalah modal sosial. Perusahaan membutuhkan kepercayaan. Pemerintah membutuhkan kepercayaan. Keluarga membutuhkan kepercayaan. Masyarakat membutuhkan kepercayaan. Bahkan demokrasi membutuhkan kepercayaan. Tanpa kepercayaan, semua hubungan berubah menjadi transaksi.<\/p>\n<p>Kiat kedua belas adalah <strong>berani menggunakan hak sekaligus memahami batas tanggung jawab<\/strong>. Kita mempunyai hak untuk berbicara, mengkritik dan berkumpul. Tetapi kebebasan selalu mempunyai pasangan bernama tanggung jawab. Jangan menggunakan kebebasan untuk menghancurkan orang lain. Jangan menggunakan kritik untuk menyebarkan fitnah. Jangan menggunakan perbedaan politik untuk merusak persaudaraan.<\/p>\n<p>Kita perlu membangun budaya baru: <strong>keras terhadap gagasan, tetapi tetap manusiawi terhadap manusia.<\/strong> Kita boleh mengatakan sebuah kebijakan salah tanpa mengatakan semua orang yang mendukungnya bodoh. Kita boleh berbeda pilihan tanpa memutus silaturahmi. Kita boleh kritis tanpa menjadi sinis.<\/p>\n<p>Dalam konteks inilah perdebatan tentang pemberantasan korupsi dan RUU Perampasan Aset juga memberikan pembelajaran kewargaan yang sangat penting. Masyarakat tentu menginginkan negara yang mampu mengejar dan mengembalikan aset hasil kejahatan. Namun pada saat yang sama, masyarakat harus memastikan bahwa kewenangan negara tetap berada dalam koridor hukum. Kita membutuhkan <strong>negara yang kuat, tetapi bukan negara yang sewenang-wenang<\/strong>. Kita membutuhkan penegakan hukum yang tegas sekaligus proses hukum yang adil. Kita ingin koruptor tidak dapat menyembunyikan hasil kejahatan, tetapi kita juga ingin warga yang tidak bersalah terlindungi.<\/p>\n<p>Itulah kedewasaan dalam bernegara: <strong>mendukung kekuatan negara sekaligus mengawasi kekuasaan negara.<\/strong><\/p>\n<p>Pada akhirnya, tantangan terbesar Indonesia bukan hanya bagaimana membuat negara semakin kaya, melainkan bagaimana memastikan semakin banyak warga mempunyai kesempatan untuk menjadi sejahtera. Pertumbuhan ekonomi harus menghasilkan pekerjaan yang baik. Hilirisasi harus menghasilkan teknologi. Investasi harus menghasilkan mobilitas sosial. Sumber daya alam harus menghasilkan nilai tambah. Pendidikan harus menghasilkan kemampuan. Digitalisasi harus menghasilkan produktivitas. Kebijakan publik harus menghasilkan keadilan.<\/p>\n<p>Dan warga harus mengambil bagian dalam seluruh proses tersebut.<\/p>\n<p>Kita tidak boleh terus-menerus menunggu seseorang datang untuk menyelamatkan kita. Seorang presiden tidak mungkin sendirian membangun bangsa. Pemerintah tidak mungkin sendirian memperbaiki ekonomi. DPR tidak mungkin sendirian menjaga demokrasi. Pengusaha tidak mungkin sendirian menciptakan kesejahteraan. Akademisi tidak mungkin sendirian menciptakan pengetahuan. Semua membutuhkan masyarakat yang sadar dan berdaya.<\/p>\n<p>Karena itu, mungkin pertanyaan terpenting bagi kita hari ini bukanlah <strong>\u201cApa yang akan dilakukan negara untuk saya?\u201d<\/strong> tetapi <strong>\u201cApa yang dapat saya lakukan agar diri saya, keluarga saya, komunitas saya, dan negara saya menjadi lebih kuat?\u201d<\/strong><\/p>\n<p>Pertanyaan tersebut mengubah posisi kita dari objek menjadi subjek.<\/p>\n<p>Dari penerima menjadi pelaku.<\/p>\n<p>Dari penonton menjadi warga.<\/p>\n<p>Dari sekadar pencari nafkah menjadi pembangun masa depan.<\/p>\n<p>Dan dari masyarakat yang hanya menunggu perubahan menjadi masyarakat yang <strong>menciptakan perubahan<\/strong>.<\/p>\n<p>Indonesia sedang memasuki zaman yang tidak sederhana. Ada peluang besar sekaligus risiko besar. Teknologi membuka pintu baru, tetapi juga menghapus pekerjaan lama. Sumber daya alam memberikan kekuatan ekonomi, tetapi juga menghadirkan konflik kepentingan. Demokrasi memberikan kebebasan, tetapi juga membuka ruang manipulasi. Pertumbuhan membuka kesempatan, tetapi juga dapat memperlebar jarak jika tidak dikelola secara inklusif.<\/p>\n<p>Namun sejarah selalu memberikan pilihan kepada manusia.<\/p>\n<p>Kita dapat memilih menjadi takut terhadap perubahan atau belajar menghadapinya. Kita dapat memilih menjadi korban keadaan atau membangun daya tahan. Kita dapat memilih menjadi penyebar kebencian atau pembawa kejernihan. Kita dapat memilih mengeluh tanpa akhir atau mulai melakukan sesuatu yang berada dalam jangkauan kita.<\/p>\n<p><strong>Menjadi warga negara pada zaman ini berarti memiliki keberanian untuk tetap berpikir ketika orang lain terbawa arus, tetap belajar ketika orang lain berhenti, tetap bekerja ketika keadaan sulit, tetap jujur ketika jalan pintas tersedia, dan tetap berharap ketika keadaan belum sesuai dengan yang kita inginkan.<\/strong><\/p>\n<p>Sebab bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh pemerintah yang kuat.<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/DcremUe6m0E?si=VpthTkJH-1sBEhts\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><strong>Bangsa yang kuat dibangun oleh warga yang kuat.<\/strong><\/p>\n<p>Warga yang kuat bukan warga yang selalu setuju dengan pemerintah. Warga yang kuat adalah warga yang mampu membedakan mana yang harus didukung, mana yang harus dikritik, dan mana yang harus diperbaiki. Warga yang kuat bukan warga yang tidak pernah mengalami kesulitan. Ia adalah warga yang mampu mengubah kesulitan menjadi pembelajaran.<\/p>\n<p>Maka di tengah ketimpangan, jangan kehilangan harapan.<\/p>\n<p>Di tengah perubahan, jangan kehilangan arah.<\/p>\n<p>Di tengah kebisingan politik, jangan kehilangan akal sehat.<\/p>\n<p>Di tengah kemajuan teknologi, jangan kehilangan kemanusiaan.<\/p>\n<p>Dan di tengah perjuangan membangun kehidupan yang lebih baik, jangan kehilangan keluarga, persaudaraan dan integritas.<\/p>\n<p><strong>Karena masa depan Indonesia pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh siapa yang duduk di kursi kekuasaan, tetapi oleh kualitas jutaan manusia yang menjalani kehidupan di dalamnya.<\/strong><\/p>\n<p>Dan mungkin inilah <strong>smart vision<\/strong> yang paling sederhana sekaligus paling penting:<\/p>\n<blockquote><p><em><strong>Belajar agar tidak mudah dikendalikan. Bekerja agar tidak mudah bergantung. Berorganisasi agar tidak mudah dilemahkan. Berpikir kritis agar tidak mudah dimanipulasi. Menjaga integritas agar tidak kehilangan martabat. Dan tetap peduli agar keberhasilan pribadi tidak kehilangan makna kebangsaan.<\/strong><\/em><\/p><\/blockquote>\n<p><strong>Kita tidak harus menjadi orang paling berkuasa untuk memberi arti bagi negeri ini. Kita hanya perlu menjadi warga yang setiap hari membuat dirinya sedikit lebih baik, keluarganya sedikit lebih kuat, lingkungannya sedikit lebih bermanfaat, dan negaranya sedikit lebih bermartabat.<\/strong><\/p>\n<p>Itulah cara paling sederhana untuk ikut membangun Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada zaman ketika menjadi warga negara terasa sederhana. Kita bekerja, mencari nafkah, membayar kewajiban, mendidik anak, menghormati hukum, lalu berharap negara berjalan sebagaimana mestinya. Tetapi zaman telah berubah. Hari ini,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1135,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[29],"tags":[],"class_list":["post-1134","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kultura"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1134","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1134"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1134\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1136,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1134\/revisions\/1136"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1135"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1134"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1134"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1134"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}