{"id":446,"date":"2026-03-28T02:25:29","date_gmt":"2026-03-28T02:25:29","guid":{"rendered":"https:\/\/uniqu.co.id\/?p=446"},"modified":"2026-03-28T02:29:50","modified_gmt":"2026-03-28T02:29:50","slug":"laporan-berita-kegiatan-capacity-building-uniqu-club","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/2026\/03\/28\/laporan-berita-kegiatan-capacity-building-uniqu-club\/","title":{"rendered":"Ketika Kelembutan Menjadi Kekuatan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Laporan Berita Kegiatan Capacity Building Uniqu Club \u2013&nbsp;<\/em><strong>D00<em>3<\/em><\/strong><em>&nbsp;: \u201cEmpathy at Work<\/em>&#8220;<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Nemeko-Fin<\/strong> \u2013 Di tengah hiruk-pikuk dunia profesional yang sering mengagungkan ketegasan, kecepatan, dan hasil instan, Uniqu Club mengajak para anggotanya untuk berhenti sejenak dan melihat sisi lain dari kesuksesan yang kerap terlupakan: <strong>empati<\/strong>. Dalam kegiatan Capacity Building yang berlangsung pada [27 Maret 2026] di [Apart Hotel], beberapa peserta dari berbagai latar belakang\u2014mahasiswa, fresh graduate, hingga profesional muda\u2014dibawa menyelami mengapa kemampuan yang sering disebut \u201csoft skill\u201d ini justru menjadi salah satu senjata paling kuat di tempat kerja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengusung tema <em>\u201cEmpathy at Work: From Nice-to-Have to Must-Have\u201d<\/em>, kegiatan ini menghadirkan [nama fasilitator] sebagai pembicara utama. Dengan pendekatan interaktif dan studi kasus nyata, peserta diajak memahami bahwa empati bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi yang menentukan kualitas hubungan, kolaborasi, dan bahkan keputusan bisnis.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Empati: Bukan Sekadar Mendengar, Tapi Merasakan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fasilitator membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana namun menusuk: <em>\u201cSeberapa sering Anda benar-benar didengar, bukan hanya didengarkan?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ruangan hening. Kemudian satu per satu peserta mulai berbagi pengalaman\u2014tentang atasan yang hanya memberi instruksi tanpa bertanya, tentang rekan kerja yang terburu-buru memberikan solusi sebelum memahami masalah, tentang lingkungan yang sibuk dengan target tapi lupa bahwa di balik angka ada manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari situlah fasilitator membangun pemahaman bahwa <strong>empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain\u2014memahami tantangannya, merasakan bebannya, dan menunjukkan bahwa kita peduli.<\/strong> Ini bukan tentang setuju dengan semua orang, tetapi tentang berusaha mengerti sebelum dimengerti.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cEmpati bukan berarti lemah,\u201d tegas fasilitator. \u201cJustru sebaliknya. Dibutuhkan kekuatan karakter untuk berhenti sejenak, mendengar dengan sungguh-sungguh, dan merespons dengan hati. Di dunia yang bising, orang yang mampu hadir secara utuh untuk orang lain adalah orang yang langka\u2014dan itulah yang membuatnya berharga.\u201d<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Dampak Nyata Empati di Tempat Kerja<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam sesi inti, peserta diajak melihat bagaimana empati berdampak langsung pada dinamika tim dan organisasi. Beberapa poin menjadi penekanan:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>1. Kolaborasi yang Lebih Kuat<\/strong><br>Ketika anggota tim merasa dipahami, komunikasi mengalir lebih alami. Konflik tidak berlarut karena ada ruang untuk menjelaskan, bukan sekadar memenangkan argumen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>2. Motivasi yang Meningkat<\/strong><br>Orang yang merasa diperhatikan akan memberikan yang terbaik bukan karena takut, tetapi karena mereka merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>3. Keputusan yang Lebih Bijak<\/strong><br>Ketika kita mempertimbangkan bagaimana keputusan kita memengaruhi orang lain, kita membuat pilihan yang menguntungkan tim secara keseluruhan\u2014bukan hanya diri sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fasilitator juga menyoroti bahwa empati bukan hanya tugas pemimpin. \u201cIni adalah tanggung jawab bersama. Rekan yang saling memahami menciptakan lingkungan aman\u2014tempat orang tidak takut salah, tidak takut bertanya, dan tidak takut jadi diri sendiri.\u201d<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Simulasi: Dari \u201cMendengar\u201d Menjadi \u201cMerasakan\u201d<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk memperdalam pemahaman, peserta dibagi ke dalam kelompok kecil dan diberikan skenario nyata yang sering terjadi di tempat kerja:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Skenario 1:<\/strong> Seorang anggota tim terlihat murung dan kurang produktif setelah beberapa hari. Sebagai rekan kerja, apa yang akan Anda lakukan?<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Skenario 2:<\/strong> Anda adalah atasan yang harus memberikan umpan balik negatif kepada bawahan. Bagaimana cara menyampaikannya tanpa meruntuhkan semangat?<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Skenario 3:<\/strong> Tim Anda sedang dikejar deadline ketat. Seorang anggota tim meminta izin karena ada masalah keluarga. Apa prioritas Anda?<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap kelompok diminta untuk tidak hanya mencari solusi, tetapi mempraktikkan <strong>komunikasi empatik<\/strong>\u2014mendengar tanpa menghakimi, merespons dengan dukungan, dan mencari solusi bersama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu peserta, [Gun], mengaku terkejut dengan pengalamannya. \u201cSelama ini saya pikir menjadi profesional artinya fokus pada target, tidak perlu bawa perasaan. Ternyata justru dengan menunjukkan empati, solusi menjadi lebih mudah ditemukan. Tim lebih kooperatif, bukan karena terpaksa, tapi karena merasa dihargai.\u201d<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kindness is Free, Meanness Costs a Fortune<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menjelang penutupan, fasilitator membagikan pesan yang menggema hingga sesi foto bersama:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cSaya selalu ingat nasihat dari mentor saya: \u2018Kindness is free, meanness costs a fortune.\u2019 Kebaikan tidak membutuhkan biaya, tetapi kekejaman\u2014dalam bentuk ketidakpedulian, kekasaran, atau sikap abai\u2014membayar mahal: kehilangan kepercayaan, rusaknya hubungan, dan keluarnya talenta terbaik.\u201d<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fasilitator menegaskan bahwa dalam industri apa pun\u2014teknologi, keuangan, ritel, manufaktur\u2014tekanan tinggi sering membuat kita lupa bahwa di balik angka dan target, ada manusia. Dan manusia tidak bekerja optimal ketika merasa tidak dihargai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cEmpati tidak butuh waktu lama. Tapi imbalannya luar biasa: hubungan yang lebih kuat, tim yang lebih solid, tempat kerja yang lebih sehat. Mari berhenti memperlakukan empati sebagai sekadar \u2018nice to have\u2019. Karena ketika kita memimpin dengan empati, kita tidak hanya membangun bisnis\u2014kita membangun tempat di mana orang ingin berkarya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kesan Peserta: Membuka Mata dan Mengubah Cara Pandang<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peserta [Adi] mengungkapkan bahwa kegiatan ini mengubah cara pandangnya tentang kepemimpinan. \u201cSaya selama ini mengira pemimpin yang baik adalah yang tegas dan tidak banyak basa-basi. Ternyata ketegasan tanpa empati hanya melahirkan ketakutan, bukan rasa hormat. Sekarang saya paham, orang akan mengikuti pemimpin yang mereka rasa peduli pada mereka.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peserta lainnya, [Andi], menyampaikan bahwa ia akan mulai menerapkan prinsip ini di tempat magangnya. \u201cSaya sering melihat rekan kerja yang stres tapi tidak ada yang peduli. Mulai sekarang saya ingin menjadi orang yang berani bertanya, \u2018Kamu baik-baik saja?\u2019 dan benar-benar mendengarkan jawabannya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Rekomendasi: Komitmen Uniqu Club untuk Penguatan Kapasitas Manusia<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan Capacity Building ini merupakan bagian dari komitmen Uniqu Club untuk tidak hanya membekali anggotanya dengan keterampilan teknis, tetapi juga membangun <strong>kecerdasan emosional dan kepemimpinan yang manusiawi<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKami percaya bahwa profesional yang hebat bukan hanya yang cerdas secara intelektual, tetapi juga yang mampu membawa kehangatan di mana pun ia berada. Empati adalah keterampilan yang bisa dilatih, dan kami akan terus menghadirkan ruang untuk melatihnya,\u201d ujar [Walker] di akhir acara.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Untuk informasi lebih lanjut dan jadwal kegiatan berikutnya, ikuti media sosial Uniqu Club atau hubungi [Admin].<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Laporan oleh:<\/strong><br>Tim Media Uniqu Club<br>[27 Maret 2026]<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>#EmpatiDiTempatKerja #UniquClub #CapacityBuilding #LeadWithHeart #SoftSkillYangKuat #KindnessIsFree #BudayaPositif #LeadershipWithEmpathy<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Laporan Berita Kegiatan Capacity Building Uniqu Club \u2013&nbsp;D003&nbsp;: \u201cEmpathy at Work&#8220; Nemeko-Fin \u2013 Di tengah hiruk-pikuk dunia profesional yang sering mengagungkan ketegasan, kecepatan, dan hasil instan, Uniqu Club mengajak para&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":447,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[290],"tags":[297],"class_list":["post-446","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uniqu-update","tag-empati"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/446","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=446"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/446\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":452,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/446\/revisions\/452"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/447"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=446"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=446"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=446"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}