{"id":744,"date":"2026-04-23T23:51:00","date_gmt":"2026-04-23T23:51:00","guid":{"rendered":"https:\/\/uniqu.co.id\/?p=744"},"modified":"2026-04-23T23:53:57","modified_gmt":"2026-04-23T23:53:57","slug":"growth-mindset","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/2026\/04\/23\/growth-mindset\/","title":{"rendered":"&#8216;Growth Mindset&#8217; Menjadi Kunci Bertahan di Tengah Guncangan Global"},"content":{"rendered":"\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Saat Bangsa ini Terjebak Trauma Masa Lalu .. Whats Next !!<\/h3>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jakarta<\/strong> \u2014 Dunia sedang dalam keadaan tidak menentu akibat konflik di Timur Tengah yang terus memanas. Akibatnya harga komoditas berfluktuasi dan tekanan ekonomi global semakin terasa hingga ke tingkat rumah tangga di Indonesia. Namun, di tengah gelombang ketidakpastian itu, para psikolog dan pakar pengembangan diri justru menyoroti satu faktor yang sering luput dari perhatian: <strong>kondisi mental bangsa<\/strong>. Bukan sekadar ketahanan ekonomi, melainkan <em>growth mindset<\/em>\u2014pola pikir bertumbuh\u2014yang dinilai menjadi penentu apakah seseorang akan tenggelam dalam tekanan atau justru bangkit menjadi lebih kuat.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Growth Mindset Bukan Sekadar &#8220;Berpikir Positif&#8221;<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI, dr. Imran Pambudi, MPHM, dalam keterangan pers pekan ini mengingatkan bahwa sekitar 28 juta penduduk Indonesia berpotensi mengalami masalah kejiwaan, dan tekanan ekonomi akibat ketidakpastian global menjadi salah satu pemicu utamanya. Namun, menurut psikolog klinis dan pakar <em>growth mindset<\/em>, Prof. Djohan Yoga, yang kerap menjadi narasumber dalam berbagai pelatihan berskala nasional, masalah utamanya bukan hanya pada tekanan eksternal, melainkan pada cara seseorang merespons tekanan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Banyak orang salah paham tentang <em>growth mindset<\/em>,&#8221; ujar Prof. Djohan dalam wawancara eksklusif. &#8220;Mereka mengira <em>growth mindset<\/em> hanya soal &#8216;tetap semangat&#8217; atau &#8216;percaya bahwa usaha akan membuahkan hasil&#8217;. Padahal, <em>growth mindset<\/em> yang dewasa adalah kemampuan untuk membedakan mana hambatan yang masih nyata dan mana yang hanya tinggal trauma dari masa lalu.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Prof. Djohan menjelaskan bahwa <em>growth mindset<\/em> vs <em>fixed mindset<\/em> bukanlah sekadar dikotomi optimis-pesimis. <em>Fixed mindset<\/em> meyakini bahwa kemampuan adalah bawaan dan tidak banyak berubah, sehingga kegagalan dianggap sebagai bukti ketidakmampuan permanen. Sementara <em>growth mindset<\/em> meyakini bahwa kecerdasan, keterampilan, bahkan karakter dapat dikembangkan melalui usaha, strategi yang tepat, dan ketahanan menghadapi kegagalan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Dua Jerat Mental yang Melumpuhkan di Tengah Badai<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam sesi pelatihan yang diikutinya, Prof. Djohan menemukan bahwa banyak warga Indonesia\u2014dari pelaku UMKM, pegawai kantoran, hingga mahasiswa yang baru lulus\u2014terjebak dalam <strong>dua pola mental yang kontra-produktif<\/strong> sekaligus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pertama, <em>learned helplessness<\/em><\/strong> (ketidakberdayaan yang dipelajari). Ini terjadi ketika seseorang berulang kali gagal di masa lalu, lalu berhenti mencoba sama sekali, meskipun kondisi saat ini sudah berubah. Contohnya, seorang pengusaha yang bangkrut saat pandemi lalu tidak berani memulai usaha lagi sekarang, padahal ekosistem digital dan dukungan pemerintah sudah jauh lebih baik. Atau seorang pencari kerja yang ditolak 20 kali di tahun 2023 dan sekarang tidak lagi mengirim lamaran, meskipun lowongan kerja justru meningkat. &#8220;Dinding yang dulu menghentikan mereka mungkin sudah runtuh. Tapi ingatan akan sakitnya benturan masih hidup di kepala,&#8221; kata Prof. Djohan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kedua, <em>overcommitment<\/em><\/strong> (kelebihan komitmen). Ini kebalikannya: seseorang justru mengambil setiap peluang yang datang karena takut kehilangan momentum. Akibatnya, sumber daya\u2014waktu, energi, fokus, bahkan kesehatan mental\u2014terkuras habis. Kualitas kerja turun, tim kewalahan, dan yang paling fatal, identitas diri atau merek menjadi kabur. &#8220;Banyak usaha kecil di Indonesia yang gulung tikam bukan karena sepi pembeli, tapi karena terlalu banyak mengambil pesanan yang tidak menguntungkan atau klien yang tidak menghargai nilai kerja,&#8221; ujar Prof. Djohan mengilustrasikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dua jebakan ini\u2014berhenti total karena trauma, atau bergerak tanpa arah karena takut kehilangan\u2014sama-sama bentuk <em>fixed mindset<\/em>. Yang pertama: &#8220;Saya tidak bisa, dulu sudah bukti.&#8221; Yang kedua: &#8220;Saya harus ambil semua, kalau tidak saya akan rugi.&#8221; Keduanya tidak adaptif.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Made dan Pelajaran &#8220;Berkata Tidak&#8221;<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Made (45 tahun), pengusaha kerajinan rotan asal Cirebon, merasakan sendiri bagaimana kedua jebakan itu hampir menghancurkan usahanya. Setelah pandemi, ia menerima semua pesanan\u2014klien minta diskon, ia kasih; klien minta kredit panjang, ia setuju. &#8220;Saya pikir itu cara bertahan. Ternyata saya justru tenggelam dalam utang dan kelelahan,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Titik baliknya adalah ketika ia mulai belajar <strong>berkata tidak<\/strong>. Tidak pada proyek yang tidak menguntungkan, tidak pada klien yang tidak menghargai kualitas, tidak pada &#8220;peluang cepat&#8221; yang menguras tim. &#8220;Awalnya takut kehilangan pemasukan. Tapi begitu saya fokus pada proyek yang selaras, klien saya memang berkurang, tapi margin saya naik dan tim saya tidak lagi lembur terus,&#8221; ungkap Made.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Made tidak berhenti berusaha\u2014dia justru menerapkan <em>growth mindset<\/em> dengan cara yang cerdas: <strong>terus mencoba pada hal-hal yang penting, dan berani menolak pada hal-hal yang mengganggu.<\/strong> Ini adalah bentuk nyata dari apa yang disebut Prof. Djohan sebagai &#8220;ketekunan selektif&#8221;\u2014tetap bergerak maju, tetapi dengan arah yang dipilih secara sadar, bukan sekadar reaktif.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Ketidakpastian Adalah Ujian Mental Terbesar<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kementerian Perindustrian mencatat bahwa lebih dari 60% Industri Kecil Menengah (IKM) di Indonesia masih menghadapi tantangan akses modal dan bahan baku akibat gangguan rantai pasok global. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun menjadi 4,74%, namun dari 7,36 juta penganggur, lebih dari separuh adalah lulusan SMA ke bawah yang rentan terhadap tekanan ekonomi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam kondisi seperti ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu&#8217;ti secara konsisten mendorong integrasi <em>growth mindset<\/em> dalam kurikulum nasional. &#8220;Orang hebat bukan mereka yang tidak pernah jatuh, melainkan mereka yang mampu belajar dari setiap pengalaman, termasuk pengalaman gagal,&#8221; tegasnya dalam berbagai kesempatan. Kementerian Pendidikan telah meluncurkan program pelatihan guru yang fokus pada pengembangan <em>growth mindset<\/em> siswa, terutama di daerah tertinggal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, penerapan <em>growth mindset<\/em> tidak bisa hanya di sekolah. Lingkungan kerja, keluarga, dan komunitas juga perlu membangun budaya di mana <strong>kegagalan dilihat sebagai data untuk belajar<\/strong>, bukan sebagai vonis mati atas kemampuan seseorang. Perusahaan-perusahaan besar di Indonesia mulai mengadopsi prinsip ini dalam program pengembangan karyawan mereka, dengan hasil yang menggembirakan: produktivitas tim meningkat, retensi bakat lebih baik, dan inovasi lebih sering muncul.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tiga Langkah Praktis Menumbuhkan Growth Mindset di Era Turbulensi<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berdasarkan riset dan pengalaman lapangan, Prof. Djohan Yoga merangkum tiga langkah konkret untuk mengembangkan <em>growth mindset<\/em> di tengah tekanan global:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Lakukan audit kegagalan.<\/strong> Tuliskan kegagalan signifikan yang Anda alami dalam 3-5 tahun terakhir. Lalu tulis kolom: &#8220;Kondisi saat gagal&#8221; dan &#8220;Kondisi saat ini.&#8221; Jika kondisi sudah berubah secara material (misalnya: dulu tidak punya keterampilan digital, sekarang sudah; dulu pasar tidak ada, sekarang mulai tumbuh), maka kegagalan itu sudah &#8220;kedaluwarsa.&#8221; Cobalah lagi, meskipun takut.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Lakukan audit peluang.<\/strong> Setiap kali ada tawaran proyek, klien, atau kesempatan baru, tanyakan: &#8220;Apakah ini membawa saya lebih dekat ke versi terbaik dari diri saya dalam 3 tahun ke depan?&#8221; Jika jawabannya tidak jelas, atau justru mengganggu fokus utama, berkata &#8220;tidak&#8221; adalah tindakan <em>growth mindset<\/em> yang sehat.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Latih dialog internal yang membedakan.<\/strong> Ganti pertanyaan &#8220;Apakah saya mampu?&#8221; dengan &#8220;Apakah usaha ini sepadan dengan arah pertumbuhan saya?&#8221; dan &#8220;Apakah hambatan ini berasal dari ingatan lama atau dari realitas saat ini?&#8221; Perubahan bahasa ini mengaktifkan <em>prefrontal cortex<\/em> (bagian otak untuk penalaran) dan menenangkan <em>amygdala<\/em> (pusat rasa takut).<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Bangsa yang Bertumbuh Adalah Bangsa yang Mampu Beradaptasi<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah ketidakpastian global\u2014perang, inflasi, disrupsi teknologi\u2014pertumbuhan ekonomi memang penting. Namun, tanpa ketahanan mental yang berlandaskan <em>growth mindset<\/em>, masyarakat akan mudah terperangkap dalam siklus ketakutan dan kelelahan. Sebaliknya, dengan <em>growth mindset<\/em>, setiap krisis dilihat sebagai peluang untuk belajar, setiap kegagalan sebagai umpan balik, dan setiap &#8220;tidak&#8221; strategis sebagai langkah menuju fokus yang lebih tajam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kisah Made di Cirebon hanyalah satu dari jutaan kisah warga Indonesia yang hari ini sedang berjuang. Ia memilih untuk tidak berhenti, namun juga tidak mengambil semua peluang. Ia memilih untuk <strong>bertumbuh secara cerdas<\/strong>\u2014sebuah pilihan yang sekarang semakin mendesak untuk diadopsi oleh setiap individu, organisasi, dan bahkan bangsa.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-pullquote\"><blockquote><p>&#8220;<em>Growth mindset<\/em> bukanlah tentang menjadi yang tercepat atau terkuat, Ini tentang menjadi yang paling adaptif. Karena di zaman yang tidak ada yang pasti, kemampuan untuk terus belajar ulang dan berani merubah cara-cara lama yang tidak lagi relevan adalah satu-satunya jaminan untuk tidak tertinggal.&#8221;<\/p><cite><strong>Dursaw, 24 April 2026<\/strong><\/cite><\/blockquote><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat Bangsa ini Terjebak Trauma Masa Lalu .. Whats Next !! Jakarta \u2014 Dunia sedang dalam keadaan tidak menentu akibat konflik di Timur Tengah yang terus memanas. Akibatnya harga komoditas&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":745,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[400],"tags":[673,525,670,672,671],"class_list":["post-744","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-duniakerja","tag-bangkitlebihkuat","tag-belajardarikegagalan","tag-growthmindsetindonesia","tag-ketahananmental","tag-mentaltangguh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/744","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=744"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/744\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":748,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/744\/revisions\/748"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/745"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=744"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=744"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=744"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}