{"id":755,"date":"2026-04-24T07:43:24","date_gmt":"2026-04-24T07:43:24","guid":{"rendered":"https:\/\/uniqu.co.id\/?p=755"},"modified":"2026-04-24T07:43:24","modified_gmt":"2026-04-24T07:43:24","slug":"antara-hangatnya-gang-dan-dinginnya-lantai-15","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/2026\/04\/24\/antara-hangatnya-gang-dan-dinginnya-lantai-15\/","title":{"rendered":"Antara Hangatnya Gang dan Dinginnya Lantai 15"},"content":{"rendered":"\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Membaca Jakarta sebagai Laboratorium Bertetangga Dunia<\/h3>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jakarta<\/strong> &#8211; <em>Tidak ada kota di dunia yang sedang mengalami transisi kehidupan bertetangga sesakit dan sepenting Jakarta. Saat penduduk asli kampung mulai menempati menara beton, dunia menyaksikan sebuah eksperimen sosial raksasa: bisakah keramahan tropis bertahan di atas lift dan koridor tanpa jendela?<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">DEGUP JAKARTA YANG TAK TERDENGAR<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jakarta bukan sekadar macet dan banjir. Jakarta adalah <strong>megacity terpadat di dunia<\/strong> pada 2025: lebih dari 42 juta manusia dalam satu wilayah metropolitan. Bandingkan dengan Tokyo yang mulai menyusut, atau New York yang stagnan. Kepadatan Jakarta mencapai 22.000 jiwa per km\u00b2 \u2013 dua kali lipat Singapura.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi ada yang lebih menarik dari angka: <strong>80 persen wilayah Jakarta masih berupa kampung<\/strong> dengan rumah rendah, gang sempit, dan sumur bersama. Hanya 20 persen lahan yang diisi menara, apartemen, dan superblok. Namun dalam satu dekade ke depan, Pemerintah DKI (didukung APBN yang mulai berkurang karena IKN) menargetkan <strong>vertikalisasi massal<\/strong>. Ratusan ribu keluarga dipindahkan ke rusunawa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertanyaannya: <strong>apa yang terjadi pada jiwa bertetangga saat rumah digeser ke atas?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">TIGA HUKUM BERTETANGGA YANG TAK PERNAH DIAJARKAN DI SEKOLAH<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum membandingkan Jakarta dengan kota global, kita perlu memahami tiga hukum dasar yang ditemukan oleh para psikolog lingkungan dan perancang kota:<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Hukum 1: <em>Propinquity Effect<\/em> (Efek Kedekatan Fisik)<\/h4>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semakin dekat tempat tinggal seseorang dengan kita, semakin besar kemungkinan kita berteman dengannya.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini bekerja di kampung: rumah berhadapan, jemuran bersentuhan, anak main di satu halaman. Tapi di apartemen, kedekatan fisik justru menjadi <strong>vertikal<\/strong> \u2013 tetangga di lantai 14 tidak pernah bertemu tetangga di lantai 3. Lift memisahkan, bukan menyatukan.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Hukum 2: <em>Defensible Space<\/em> (Ruang yang Bisa Dipertahankan)<\/h4>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Konsep dari arsitek Oscar Newman: kriminalitas dan konflik sosial rendah jika warga merasa memiliki dan mampu mengawasi ruang bersama.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kampung memiliki gang yang secara informal diawasi ibu-ibu yang duduk di teras. Apartemen modern memiliki koridor panjang, minim penerangan, tanpa tempat duduk. Hasilnya: tidak ada yang merasa bertanggung jawab.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Hukum 3: <em>Social Heat \u2013 The 28% Rule<\/em> (Aturan 28 Persen)<\/h4>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Studi dari MIT dan University of Tokyo (2023) menunjukkan bahwa untuk mencegah isolasi di hunian padat, <strong>minimal 28 persen luas lantai harus berupa ruang publik bersama<\/strong>, plus 12 persen area semi-publik ( taman kecil, koridor lebar, ruang cuci bersama).<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rusunawa di Jakarta rata-rata hanya menyediakan 8\u201312 persen ruang publik. Akibatnya, obrolan terpaksa terjadi di <strong>koridor sempit<\/strong> yang justru memicu gesekan. Sebaliknya, flat HDB Singapura menyisihkan 30\u201335 persen untuk <em>void deck<\/em>, taman bermain, dan <em>rooftop garden<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">PERBANDINGAN EMPAT KOTA: SKOR KEHANGATAN DAN KETERATURAN<\/h3>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Kota<\/th><th class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">Skor Kehangatan (1\u201310)<\/th><th class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">Skor Keteraturan (1\u201310)<\/th><th class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Model Interaksi<\/th><th class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Kelemahan Utama<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\"><strong>Jakarta (kampung)<\/strong><\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">9<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">3<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Gotong royong spontan<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Konflik parkir, sampah, privasi nol<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\"><strong>Jakarta (rusun baru)<\/strong><\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">4<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">6<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Transisi; sering kesepian<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Tidak ada tradisi hidup vertikal<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\"><strong>Singapura (HDB)<\/strong><\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">7<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">9<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Kuota ras &amp; pendapatan + ruang publik wajib<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Terasa seperti &#8220;dipaksa&#8221; bersahabat<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\"><strong>Tokyo (apartment)<\/strong><\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">5<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">8<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Asosiasi lingkungan (chonaikai)<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Lansia mati sendirian (<em>kodokushi<\/em>)<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\"><strong>Shanghai<\/strong><\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">5<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">7<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Pagar kompleks + aktivitas yang diatur<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Interaksi sering formal, bukan hangat<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\"><strong>New York<\/strong><\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">6<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">4<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Komunitas berbasis blok dan bar<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Ketimpangan ekstrem, segregasi alami<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Temuan menarik:<\/strong> tidak ada kota yang mencapai skor hangat dan tertib sekaligus di atas 8. Hukum fisika sosial: <strong>semakin hangat, semakin kacau; semakin tertib, semakin dingin<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">MENGAPA JAKARTA BERBEDA? WARUNG KOPI SEBAGAI PARLEMEN RAKYAT<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para peneliti dari <em>Urban Sociality Lab<\/em> (University of Melbourne, 2024) melakukan studi etnografi di empat kampung Jakarta. Temuan mereka:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Warung kopi dan kaki lima<\/strong> adalah pusat komunikasi yang tidak direncanakan. Tanpa warung, warga kampung kehilangan 70 persen interaksi bermakna.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Mushola atau langgar<\/strong> berfungsi sebagai ruang rapat darurat untuk segala urusan \u2013 dari RT hingga utang piutang.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Gang dengan lebar 1,5\u20132 meter<\/strong> menciptakan &#8220;tekanan interaksi&#8221; yang sehat: orang <em>terpaksa<\/em> saling menyapa karena tidak bisa menghindar.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di rusun, warung kopi digantikan oleh <em>minimarket<\/em> ber-AC yang steril. Mushola dipindah ke lantai dasar dengan jam terbatas. Gang diganti koridor lebar 1,2 meter tanpa tempat duduk. Hasilnya: <strong>warga bisa tinggal bertahun-tahun tanpa tahu nama tetangga di seberang lift<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>&#8220;Kami membangun Jakarta secara vertikal dengan mentalitas horizontal,&#8221;<\/em> kata Dr. Ir. Marco Kusumawijaya, pengamat perkotaan. <em>(wawancara, 2025)<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">KASUS PILIHAN: RUSUN JATI PADANG vs. FLAT TIONG BAHRU (SINGAPURA)<\/h3>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><thead><tr><th class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Variabel<\/th><th class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Rusun Jati Padang, Jakarta<\/th><th class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Flat Tiong Bahru, Singapura<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Tahun dibangun<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">2015<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">2018 (renovasi)<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Jumlah unit<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">1.080<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">980<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Luas unit rata-rata<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">24 m\u00b2<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">32 m\u00b2<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Rasio ruang publik<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">11%<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">33%<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Fasilitas interaksi wajib<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Tidak ada<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\"><em>Void deck<\/em>, taman komunal, ruang serbaguna<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Konflik antar warga (laporan per 100 unit\/bulan)<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">8,7<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">1,2<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Persentase tahu nama tetangga &gt;3 unit<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">22%<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">74%<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">Keinginan kembali ke kampung<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">68%<\/td><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">4%<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Sumber:<\/strong> <em>Riset Independen LPEM FEB UI &amp; Laporan Tahunan HDB 2024<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Data di atas menunjukkan bahwa <strong>bukan budaya yang menentukan<\/strong>, melainkan <strong>desain<\/strong>. Warga Jakarta yang secara tradisional ramah bisa berubah menjadi dingin dan konfliktif jika ditempatkan di ruang yang salah. Sebaliknya, warga Singapura yang sering dianggap individualis justru bisa memiliki kohesi tinggi karena infrastruktur sosialnya dibangun dengan sengaja.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">MENGAPA INI PENTING UNTUK GAYA HIDUP ANDA?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anda mungkin bukan arsitek atau pembuat kebijakan. Tapi Anda adalah <strong>penghuni<\/strong>. Dan ketiga hal ini secara langsung mempengaruhi kesehatan mental dan kebahagiaan Anda:<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">a. Kesepian di tengah keramaian<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Studi di <em>The Lancet<\/em> (2024) menemukan bahwa penghuni apartemen padat dengan ruang publik minim memiliki <strong>risiko depresi 2,3 kali lebih tinggi<\/strong> dibanding penghuni landed house. Di Jakarta, angka itu mungkin lebih parah karena transisi yang tiba-tiba.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">b. Konflik tetangga menguras energi<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di rusun Jakarta, tiga penyebab konflik utama:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Suara<\/strong> (TV kencang, anak berlari, hewan peliharaan)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Parkir<\/strong> (sepeda motor di koridor, mobil di tempat orang lain)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Sampah<\/strong> (tidak memisahkan, dibuang sembarangan)<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tanpa ruang mediasi informal (warung, pos ronda), setiap keluhan langsung naik ke pengelola atau media sosial. Akibatnya, masalah sepele bisa memanas dalam 24 jam.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">c. Hilangnya <em>social capital<\/em> jangka panjang<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Riset Robert Putnam (<em>Bowling Alone<\/em>) mengingatkan: masyarakat yang kehilangan interaksi tatap muka akan kehilangan <strong>kepercayaan, kemampuan gotong royong, dan ketahanan menghadapi krisis<\/strong>. Saat banjir besar berikutnya datang, warga apartemen yang tidak saling kenal akan lebih sulit selamat dibanding warga kampung yang solid.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">LALU, APA SOLUSINYA? TIGA REKOMENDASI UNTUK JAKARTA<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para ahli dari berbagai disiplin sepakat: <strong>kita tidak bisa kembali ke kampung, tapi juga tidak bisa memaksa hidup vertikal tanpa persiapan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">1. <em>Wajibkan rasio ruang publik 28%<\/em><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peraturan Gubernur tentang bangunan gedung harus diamandemen. Setiap menara di atas 10 lantai wajib menyediakan <strong>minimal 1 ruang serbaguna per 50 unit<\/strong>, taman bersama yang bisa diakses 24 jam, dan koridor dengan lebar minimal 2 meter yang dilengkapi bangku.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">2. <em>Hidupkan kembali &#8220;pos ronda vertikal&#8221;<\/em><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di beberapa rusun di Surabaya dan Bandung, eksperimen <strong>pos keamanan dan arisan di lantai dasar<\/strong> terbukti menurunkan konflik hingga 65 persen. Jakarta bisa mengadaptasi: jadwalkan pertemuan warga per lantai seminggu sekali, wajibkan perwakilan RT untuk tinggal di rusun, bukan di rumah pribadi.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">3. <em>Rancang &#8220;gang sempit sosial&#8221; di dalam apartemen<\/em><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ide gila dari arsitek Belanda, <strong>Floor Steyn<\/strong>: buat koridor berbentuk &#8220;T&#8221; dengan ruang cuci bersama di ujungnya. Saat mencuci, orang terpaksa bertemu. Juga, letakkan area bermain anak di dekat lift \u2013 sehingga orang tua harus menunggu dan mengawasi, yang otomatis memicu obrolan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">APA YANG BISA ANDA LAKUKAN SEKARANG?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun Anda tinggal di apartemen atau rusun, tanpa menunggu kebijakan berubah, coba:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Kenalkan diri ke setidaknya empat tetangga<\/strong> di koridor Anda. Cukup nama dan nomor darurat.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Buat grup komunikasi per lantai<\/strong> (WhatsApp atau Telegram) khusus untuk informasi darurat dan kehilangan barang, bukan untuk komplain.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Buka pintu saat memasak<\/strong> (jika memungkinkan) \u2013 aroma masakan adalah pembuka obrolan paling alami di Indonesia.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Gunakan ruang bersama<\/strong> (taman, tempat cuci, mushola) secara rutin pada jam yang sama. Keajegan menciptakan keakraban.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">JAKARTA TIDAK SENDIRIAN<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Paris pernah melalui <em>banlieue<\/em> yang dingin. Tokyo masih bergulat dengan <em>kodokushi<\/em>. New York berusaha menghidupkan kembali <em>community gardens<\/em>. Setiap kota besar di dunia sedang mencari formula agar manusia tidak menjadi <strong>foreigner in their own building<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jakarta memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki kota lain: <strong>memori budaya gotong royong yang masih segar<\/strong>. Tiga puluh tahun lagi, ketika generasi yang tumbuh di kampung sudah tiada, memori itu bisa lenyap. Atau, jika kita cerdas merancang ruang, ia bisa <strong>bertransformasi menjadi bentuk baru<\/strong> \u2013 hangat di lantai 15, tertib di parkiran, dan tetap berbunyi &#8220;permisi, Bu&#8221; di lift.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pekerjaan rumah kita bukan membangun menara setinggi mungkin. Tapi membangun jembatan antarlantai sehangat gang kampung.<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Membaca Jakarta sebagai Laboratorium Bertetangga Dunia Jakarta &#8211; Tidak ada kota di dunia yang sedang mengalami transisi kehidupan bertetangga sesakit dan sepenting Jakarta. Saat penduduk asli kampung mulai menempati menara&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":756,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-755","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/755","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=755"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/755\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":757,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/755\/revisions\/757"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/756"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=755"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=755"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/uniqu.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=755"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}