Ketika Kecerdasan Buatan Menjadi Otak di Balik Layar
Jakarta – Industri periklanan digital global memasuki babak baru yang revolusioner di tahun 2026. Kecerdasan buatan (AI) tidak lagi sekadar alat bantu pelengkap, tetapi telah berevolusi menjadi fondasi utama yang menggerakkan seluruh ekosistem pemasaran modern. Sebuah laporan terkini dari Interactive Advertising Bureau (IAB) memproyeksikan pertumbuhan belanja iklan digital Amerika Serikat mencapai 9,5 persen sepanjang tahun ini, angka yang signifikan lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini sebagian besar didorong oleh adopsi masif AI dalam setiap tahap kampanye pemasaran, mulai dari perencanaan media, eksekusi, hingga pengukuran hasil. Menariknya, lima dari enam fokus utama pengiklan tahun ini berkaitan langsung dengan penggunaan AI otomatis yang mampu bekerja layaknya asisten digital cerdas di belakang layar .
Ketika AI Bukan Lagi Sekadar Alat Bantu
Fenomena paling mencolok di tahun ini adalah pergeseran dari sekadar penggunaan AI generatif menuju adopsi agentic AI—sistem yang tidak hanya mengikuti perintah, tetapi mampu mengambil keputusan secara mandiri. David Cohen, CEO IAB, menyatakan bahwa inovasi dan eksperimentasi kini menjadi prioritas utama karena pasar sedang mengalami penataan ulang secara struktural.
“Industri kini bekerja dengan alat bertenaga AI yang terus meningkat dan memberikan efisiensi sekaligus efektivitas bagi para pemasar,” ujar Cohen dalam rilis laporan Outlook IAB 2026 .
Apa artinya bagi pengguna internet biasa? Masyarakat mungkin merasakannya melalui frekuensi iklan yang semakin personal dan relevan saat berselancar di media sosial, menonton tayangan streaming, atau sekadar mencari inspirasi belanja. Sistem AI memungkinkan iklan-iklan itu muncul pada waktu yang tepat, dengan pesan yang seolah disesuaikan dengan kebutuhan dan minat setiap individu .
Chris Bruderle, Wakil Presiden IAB untuk Industri Insights & Content Strategy, menjelaskan bahwa AI bukan lagi inisiatif yang terisolasi. “AI adalah jaringan penghubung yang menyatukan media, pengukuran, kreatif, dan pengalaman pelanggan,” jelasnya. “Namun yang berubah di tahun 2026 adalah bagaimana AI digunakan—bukan sekadar alat, tetapi sebagai mitra cerdas yang mengoordinasikan kampanye secara real-time” .
Persaingan Sengit di Ranah Retail Media
Di tengah gempuran AI, retail media tampil sebagai bintang baru yang bersinar terang. Konsep ini merujuk pada iklan yang muncul langsung di dalam platform belanja, seperti rekomendasi produk di marketplace yang muncul berdasarkan riwayat pencarian atau pembelian pengguna.
Fenomena ini bukan sekadar tren musiman. Di Amerika Serikat saja, belanja iklan retail media diperkirakan melonjak dari 60,3 miliar dolar AS pada 2025 menjadi 71,1 miliar dolar AS pada 2026. Pertumbuhan tahunan hampir 18 persen ini bahkan lebih cepat dibandingkan iklan media sosial maupun iklan mesin pencari .
Amazon saat ini masih menguasai 75 persen pendapatan iklan retail media, namun persaingan diprediksi akan semakin memanas seiring bermunculannya jaringan retail media baru dari berbagai pemain besar. Yang menarik, jaringan ini kini tidak hanya menawarkan iklan produk biasa, tetapi juga mulai merambah format video, digital out-of-home, hingga iklan di luar situs mereka .
Era Baru Privasi dan Data Bersih
Salah satu perdebatan terpanas di industri periklanan selama beberapa tahun terakhir akhirnya menemukan titik terang. Setelah bertahun-tahun wacana mengenai akhir dari cookies pihak ketiga—teknologi pelacak yang memungkinkan iklan mengikuti aktivitas pengguna di internet—Google akhirnya membatalkan rencana penghapusan tersebut pada 2024. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat Safari dan Firefox telah lebih dulu membatasi penggunaan cookies .
Meski demikian, industri periklanan sudah terlanjur bergerak menuju model baru yang lebih menghormati privasi pengguna. Solusi seperti data clean room menjadi primadona baru. Ini adalah ruang data bersama yang aman, di mana pengiklan dan penerbit dapat menggabungkan data pihak pertama mereka tanpa mengekspos informasi sensitif pengguna.
SiriusXM Media, misalnya, baru-baru ini menjalin kemitraan dengan LiveRamp untuk membangun clean room khusus audio. Langkah ini memungkinkan pengiklan menargetkan audiens dengan lebih presisi sekaligus menjaga kerahasiaan data pribadi pendengar .
Podcast Tak Lagi Sekadar Suara
Dunia audio juga mengalami transformasi signifikan. Popularitas podcast yang meroket, ditambah dengan menjamurnya platform video streaming, menciptakan skenario sempurna bagi podcast untuk bertransformasi. Kini podcast tidak lagi hanya bisa didengar, tetapi juga ditonton.
Kolaborasi strategis seperti yang dilakukan Netflix dengan Spotify dan iHeartMedia menjadi contoh nyata konvergensi ini. Di sisi lain, solusi iklan video YouTube yang dikembangkan SiriusXM menunjukkan bagaimana celah antara audio dan video semakin menyempit, membuka peluang baru bagi programmatic podcast monetization .
Di Balik Layar Mesin Pintar: Manusia Tetap Kunci
Namun di tengah hiruk-pikuk kecanggihan teknologi, para pakar mengingatkan agar kita tidak melupakan esensi dasar pemasaran, karena teknologi hanyalah alat. Tahun 2026 menunjukkan bahwa masa depan periklanan bukan hanya soal mesin yang semakin pintar, tetapi juga tentang bagaimana menjaga kemanusiaan di dalamnya.
Shoshana Zuboff, profesor Harvard, melalui karyanya The Age of Surveillance Capitalism mengatakan bahwa industri teknologi telah mengubah pengalaman pribadi manusia menjadi “bahan mentah” untuk diolah sebagai data perilaku yang dijual kepada pengiklan. Menurutnya, jika dibiarkan tanpa batas, praktik ini berpotensi mengurangi kebebasan individu karena manusia pada akhirnya menjadi objek yang dimanipulasi oleh sistem digital .
Byron Sharp dalam bukunya How Brands Grow juga menekankan pentingnya jangkauan luas, konsistensi pesan, dan aset merek yang mudah dikenali. Ia menunjukkan bahwa pertumbuhan merek tidak datang dari “loyalitas mendalam” segelintir pelanggan, melainkan dari jumlah besar pelanggan yang membeli secara insidental. Sebuah iklan yang sangat tertarget belum tentu efektif jika mereknya tidak mudah dikenali .
Adaptasi di Level Praktisi
Di tingkat praktisi, perusahaan pemasaran berlomba beradaptasi. Increa, sebuah agensi pemasaran terintegrasi di Surabaya, menjadi salah satu contoh bagaimana pelaku industri merespons perubahan ini.
CEO Increa, Nanda Rizky Amelia, menjelaskan bahwa pihaknya terus memperbarui strategi pemasaran agar layanan yang diberikan mampu membantu brand mencapai target kinerja. “Kami lebih mengutamakan service excellence. Setiap update marketing selalu kami selaraskan dengan tujuan KPI dari brand. Kami juga mengkurasi event atau brand activation yang sesuai dengan KPI brand dan target marketnya,” ujarnya Jumat (6/3/2026) di Alana Hotel Surabaya .
Menurut Nanda, industri periklanan pada 2026 semakin didominasi digitalisasi, personalisasi berbasis AI, serta pendekatan yang lebih langsung antara brand dengan konsumen. “Tren industri periklanan sebenarnya sudah dimulai sejak AI booming. Sekarang semakin personal, dan 2026 menjadi momentum setiap brand untuk lebih engaged dengan customer loyal melalui brand activation yang mengikuti demand atau perilaku customer,” jelasnya .
Menatap Masa Depan Iklan Digital
Laporan IAB 2026 mengungkapkan bahwa dua pertiga pengiklan kini mengandalkan AI untuk mengatur kampanye secara otomatis, mulai dari menetapkan harga iklan hingga memindahkan anggaran ke kanal yang lebih efektif. Gartner bahkan menyatakan bahwa AI telah menjadi “lapisan operasi” yang menggerakkan banyak keputusan bisnis di seluruh industri .
Namun, perubahan ini bukannya tanpa tantangan. Survei IAB menunjukkan bahwa 44 persen pembeli media mengaku beradaptasi dengan perubahan kebiasaan konsumen sebagai tantangan investasi teratas. Sementara itu, 38 persen lainnya menyebut pemahaman tentang generative AI sebagai tantangan utama, meningkat 14 poin dari tahun 2024 .
Seiring industri memasuki era baru yang semakin maju dan kompleks, transparansi dan kepercayaan menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar. Apa yang dulu bersifat eksperimental kini menjadi fondasional. AI menjadi inti eksekusi kampanye, kurasi menghadirkan kontrol yang lebih besar, clean room membentuk cara data digabungkan dan diaktifkan, serta format iklan baru di berbagai kanal bermunculan.
Kesuksesan di masa depan akan bergantung pada bagaimana pengiklan dan penerbit merangkul fleksibilitas, berinvestasi pada kepercayaan dan transparansi, serta membangun strategi yang dirancang untuk berkembang seiring perubahan perilaku konsumen . Pada akhirnya, teknologi hanya memberi alat yang lebih canggih. Yang menentukan apakah sebuah merek dapat bertahan dan tumbuh tetaplah kemampuan mereka memahami manusia: apa yang dibutuhkan, apa yang dirasakan, dan bagaimana membangun kepercayaan di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi.








