Sebuah Renungan tentang Qanaah dan Arti Kecukupan
Bandung – Sore itu, di lapangan Gasibu yang luas, sekitar tujuh juta warga Bandung berkumpul. Tua muda, kaya miskin, pejabat dan rakyat biasa, semua duduk bersimpuh memanjatkan doa yang sama: “Ya Allah, berikanlah masing-masing dari kami seratus miliar rupiah.” Doa yang mustahil dalam logika, tetapi mungkin dalam kekuasaan-Nya. Lalu Subuh tiba, dan keajaiban itu benar-benar terjadi. Uang mengalir masuk ke setiap rumah, ke setiap rekening, ke setiap genggaman. Seluruh Bandung menjadi kota para miliarder.
Pagi harinya, dunia berubah wajah. Seorang anak yang biasa berpamitan kepada emak dengan ciuman hangat, kini berdiri di depan cermin berkata, “Mami, i am going to school.” Ia menolak uang jajan yang disodorkan sang ibu seraya menunjukkan tas sekolahnya yang sudah penuh berisi tumpukan uang. Di jalan raya, angkot-angkot terparkir acak tak karuan. Para supirnya berkumpul, asyik memesan mobil balap via ponsel masing-masing. “Kalau mau ke sekolah, ambil saja angkot itu, bawa sendiri,” kata mereka santai. Para tukang becak tertawa lepas sambil menginjak-injak becaknya. “Masa lalu!” seru mereka penuh kemenangan. Tukang ojek pun ikut-ikutan, “Pakai motor saya, ambil di pinggir sawah sana, bersihkan sendiri. Nggak usah dibalikin, saya sudah pesan motor cross.”
Anak itu pun berjalan kaki. Langkahnya tertatih bukan karena jauh, melainkan karena tas sarat uang yang ia bawa. Anehnya, jalanan terasa aman. Para perampok pun sudah kaya, tak lagi berminat pada harta orang lain. Ia terus berjalan hingga tiba di sekolah, lalu menuju warung favoritnya. “Bi, jualan apa hari ini?” tanyanya lugu. Si penjual yang biasa dipanggil bibi itu mendadak memasang muka sewot. “Mana bibi? Panggil saya tante. Tidak ada jualan hari ini. Kalau mau makan, tunggu sebulan lagi. Tante lagi siap-siap buka restoran.”
Para guru datang hanya untuk berpamitan. “Anak-anak, bapak dan ibu guru mohon diri. Kami sudah ajukan pensiun dini. Kami akan buka sekolah sendiri-sendiri. Mulai sekarang, belajarlah mandiri.”
Lapar dan lelah, anak itu memutuskan pulang. Di pinggir trotoar, ia duduk termenung. Tak ada angkot, tak ada ojek, tak ada yang bisa ditumpangi. Tiba-tiba telepon dari ayah berdering. “Kamu di mana? Tolong bantu, ayah kehabisan bensin. Pom bensin tutup, tidak ada yang mau jaga. Mamimu minta ayah ke luar kota beli sayur. Di Bandung sudah tidak ada tukang sayur.”
Dalam satu hari, kota yang seluruh warganya kaya raya itu berubah menjadi neraka. Gubernur menyapu dan mengepel kantornya sendiri. Para PNS telah memecat diri. Dokter sibuk memesan jet pribadi, tak lagi melayani pasien. Petani lebih memilih beli traktor daripada menanam padi. Lalu dari mana makanan datang? Siapa yang mengangkut sampah? Siapa yang mengajar anak-anak? Siapa yang memotong rambut? Siapa yang menjahit baju robek?
Ada pula kisah tentang seorang yang doanya mustajab. Suatu hari ia melewati sebuah desa dan hatinya tersentuh melihat para petugas kebersihan, tukang jahit keliling yang mengayuh sepeda tua, serta pemilik profesi sederhana lainnya yang hidup pas-pasan. Ia pun berdoa tulus, “Ya Allah, jangan biarkan mereka miskin.”
Bertahun kemudian ia kembali ke desa itu. Matanya terbelalak melihat perubahan. Rumah-rumah telah menjadi bangunan megah bertingkat. Semua warga tampak kaya raya. Namun desa itu kotor luar biasa, karena tak ada lagi petugas kebersihan. Pakaian warga kusam dan robek-robek, karena tukang jahit enggan bekerja dengan tarif “hanya” satu miliar—terlalu kecil bagi kantong miliarder. Rambut para lelaki gondrong tak terurus, karena memotong rambut dengan tarif satu miliar pun terasa rugi.
Lebih parah lagi, warga desa lebih memilih berdiam di rumah. Di sepanjang jalan, berdatangan orang-orang dari daerah lain yang sok kenal dan berharap mendapat kecipratan rezeki. Desa yang dulu tenah berubah menjadi pasar kecemburuan sosial. Doa yang tulus itu ternyata melahirkan petaka, karena hanya memohon kekayaan materi tanpa memohon keberkahan dan keseimbangan.
Saudaraku, dari dua kisah ini kita diajak merenung. Bahwa kekayaan materi yang tidak dibarengi dengan kebijaksanaan dan kebermanfaatan sosial adalah bencana yang menyamar sebagai anugerah. Kehidupan bukanlah tentang seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, tetapi tentang seberapa eral jaring sosial yang kita bangun. Tukang sampah, tukang jahit, supir angkot, guru, petani—mereka bukan sekadar penyedia jasa. Mereka adalah simpul-simpul yang menjaga kehidupan tetap berdenyut. Ketika semua simpul putus karena semua orang memilih “naik kelas”, maka kehidupan pun robek.
Karena itu, Islam mengajarkan qanaah. Bukan berarti miskin atau pasrah tanpa usaha. Qanaah adalah merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Dan cukup itu selalu terukur. Mari kita renungkan: mana yang lebih baik, tidur banyak atau tidur yang cukup? Tidur banyak justru membuat kita kehilangan berkah waktu. Ketinggalan salat Subuh, tertinggal salat Zuhur, dan terbangun saat dunia sudah gelap tanpa suara azan Magrib, kecuali mungkin suara jangkrik di kuburan. Demikian pula harta. Harta banyak bisa membuat kita lupa diri, lupa saudara, lupa bahwa di sekitar kita ada yang membutuhkan.
Jangan kagum pada perkataan kaya. Jangan minder saat bertemu orang kaya. Jangan habiskan waktu membicarakan cara menjadi kaya. Karena kaya yang sejati bukanlah pada banyaknya harta, tetapi pada kaya hati. Kaya yang hakiki adalah saat hati selalu merasa cukup, saat jiwa lapang menerima ketentuan, saat tangan mudah terbuka memberi tanpa takut berkurang.
Allah Yang Mahabaik lebih mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Boleh jadi kita menginginkan kekayaan, tetapi Allah tahu bahwa kemiskinan justru menjaga kita. Boleh jadi kita menginginkan kemudahan, tetapi Allah tahu bahwa kesulitan justru mendewasakan kita. Dalam setiap ketentuan-Nya tersimpan hikmah yang hanya terbuka bagi hati yang berserah.
Maka berdoalah bukan hanya untuk kekayaan, tetapi untuk keberkahan. Berusahalah bukan hanya untuk menumpuk harta, tetapi untuk menebar manfaat. Karena pada akhirnya, saat arah hidup hanya pada materi, yang tercium adalah bau pengap nafsu dunia. Namun saat hidup dijalani dengan qanaah, syukur, dan berbagi, yang tercium adalah wangi surga yang semerbak mewangi.
Seandainya semua kaya dalam makna hakiki—kaya kasih sayang, kaya kepedulian, kaya rasa syukur, dan kaya keikhlasan—maka tidak akan ada yang menyapu jalanan karena terpaksa, tetapi semua akan bahu-membahu membersihkan lingkungan dengan sukarela. Tidak akan ada yang menjual sayur karena tak punya pilihan, tetapi semua akan berbagi hasil kebun dengan tetangga. Tidak akan ada yang miskin dalam kesendiriannya, karena kekayaan hati telah menyatukan semua dalam kebersamaan.
Sungguh, yang paling penting bukanlah berapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa banyak hati yang kita bahagiakan. Karena kekayaan sejati adalah saat kita kaya di mata Allah, dan cukup di mata diri sendiri.
Wallahu a’lam bish-shawab.








