Muhammadiyah Melawan Arus

Gedung Bertingkat 13 Muhammadiah : Akar Teologis Perlawanan terhadap Takhayul Global

Di tengah hiruk-pikuk modernitas, ada satu ritual aneh yang berlangsung sunyi di hampir setiap hotel, perkantoran, dan rumah sakit di dunia: angka 13 sengaja dihilangkan. Tombol lift di gedung-gedung pencakar langit melompat dari angka 12 langsung ke 14, seolah lantai nomor 13 adalah ruang kosong yang tak berpenghuni. Ini bukan kebijakan teknis atau kendala arsitektur, melainkan praktik global yang lahir dari ketakutan kolektif.

Sekitar 10 hingga 13 persen populasi di negara-negara Barat meyakini angka 13 membawa kesialan—dan 91 persen bangunan di New York lebih memilih mengganti nama lantai 13 dengan “12B” atau “14A” demi menghindari dampak bisnis dari ketakutan irasional ini.

Di tengah kepatuhan global terhadap mitos ini, Muhammadiyah, gerakan Islam terbesar di Indonesia, mengambil langkah kontra-budaya yang mengejutkan: mereka dengan sengaja membangun gedung setinggi 13 lantai, dan dengan berani menamainya sesuai angka “keramat” tersebut. Mulai dari Menara At-Tauhid Universitas Muhammadiyah Surabaya yang diresmikan tahun 2018, hingga menara medis Ibrahim Tower RS Roemani Semarang pada Mei 2026, Muhammadiyah secara terbuka menolak ketakutan kolektif yang tidak berdasar dan membangun simbol perlawanan terhadap takhayul dalam wujud beton dan baja.

Tindakan ini bukan sekadar pernyataan arsitektur yang berani. Ini adalah perwujudan langsung dari esensi ajaran tauhid yang menjadi fondasi gerakan ini sejak didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan lebih dari satu abad lalu.


Mengapa Al-Qur’an Melarang Keras Keyakinan “Sial atau Beruntung”?

Dalam perspektif Islam, keyakinan bahwa sebuah angka—atau objek, waktu, atau peristiwa apa pun—dapat membawa keberuntungan atau kesialan disebut sebagai tathayyur. Istilah ini secara etimologis berasal dari kata “thair” (burung), merujuk pada praktik masyarakat Arab Jahiliyah yang membaca pertanda baik dan buruk dari gerakan terbang burung sebelum memulai perjalanan.

Secara terminologis, tathayyur adalah tindakan menganggap sial atau bernasib buruk karena suatu hal tertentu, tanpa dasar dalil syar’i yang benar. Dalam Al-Qur’an, setidaknya ada tiga surah yang secara eksplisit melarang praktik ini: Surah Al-A’raf ayat 131, Surah An-Naml ayat 47, dan Surah Yasin ayat 18-19.

Allah SWT berfirman dalam Surah Yasin ayat 18-19 yang menceritakan dialog para rasul dengan penduduk suatu negeri yang menolak dakwah mereka:

“Mereka (penduduk negeri) berkata, ‘Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu. Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajammu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.’ Para rasul berkata, ‘Kemalangan kamu itu adalah karena (perbuatan) kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan (lalu kamu menganggap kami pembawa sial)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.'” (QS. Yasin: 18-19)

Ayat ini dengan tegas membantah anggapan bahwa kesialan berasal dari faktor eksternal seperti kehadiran seseorang atau peristiwa tertentu. Sebaliknya, kesialan atau kemalangan yang dialami seseorang adalah akibat dari perbuatan buruk mereka sendiri—bukan karena “sial” dari luar.

Surah Al-A’raf ayat 131 mengisahkan perilaku Fir’aun dan pengikutnya yang—ketika ditimpa kemakmuran, menganggapnya sebagai hak mereka sendiri; namun ketika ditimpa kemalangan, mereka lemparkan kesialan itu kepada Nabi Musa dan pengikutnya. Allah kemudian berfirman:

“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf [7]: 131)

Para mufasir menjelaskan bahwa inti pesan dari ayat-ayat ini adalah: segala sesuatu yang menimpa diri seseorang adalah semata-mata karena kehendak Allah SWT. Ketika manusia sedang mendapati musibah, mereka lupa akan takdir Allah, lalu melemparkan tuduhan penyebab kesialan kepada hal-hal yang tidak berdaya—padahal kejadian itu adalah ujian dari-Nya.


Mitos Angka 13 di Seluruh Dunia: Sebuah Takhayul Modern

Dalam praktik bisnis global saat ini, fenomena menghilangkan angka 13 telah menjadi semacam standar tak tertulis. Jika Anda menaiki lift sebuah hotel bintang lima, hampir dipastikan Anda tidak akan menemukan tombol bertuliskan angka 13. Setelah lantai 12, tombol akan melompat langsung ke lantai 14—meskipun secara arsitektur, lantai 13 secara fisik tetap ada.

Fenomena ini memiliki nama resmi: triskaidekaphobia, ketakutan irasional terhadap angka 13. Sebuah survei Gallup Poll pada tahun 2007 menemukan bahwa 13 persen responden Amerika merasa tidak nyaman saat tinggal di lantai 13 sebuah hotel. Lebih mengkhawatirkan lagi, ketakutan ini diperkirakan menyebabkan kerugian finansial lebih dari USD 800 juta per tahun di Amerika Serikat, karena orang menghindari bepergian, menikah, atau bahkan bekerja pada tanggal 13 yang jatuh di hari Jumat (fenomena Friday the 13th).

Asal-usul mitos ini menarik untuk ditelusuri. Meskipun sering dikaitkan dengan tradisi Kristen (Yudas Iskariot sebagai tamu ke-13 dalam Perjamuan Terakhir yang mengkhianati Yesus) dan mitologi Nordik (dewa Loki sebagai tamu ke-13 dalam jamuan para dewa yang membawa kekacauan), para pakar mitologi modern menyebut bahwa kepercayaan ini relatif baru—lebih merupakan konstruksi media populer abad ke-20, terutama dipopulerkan oleh film-film horor seperti Friday the 13th, ketimbang tradisi kuno yang benar-benar mengakar.

Kenyataan bahwa anggapan “sial” ini tidak berlaku universal—orang Mesir Kuno, misalnya, justru menganggap angka 13 sebagai angka keberuntungan—semakin menegaskan bahwa mitos ini hanyalah produk sosiokultural belaka, bukan kebenaran objektif. Proses seperti inilah yang dalam ajaran Islam masuk dalam kategori takhayul dan khurafat: keyakinan yang tidak berdasar, yang dibangun di atas khayalan dan kedustaan, lalu diyakini kebenarannya seolah-olah berasal dari otoritas sakral.


Muhammadiyah: Membongkar Takhayul dengan Tauhid

Di tengah kepatuhan global terhadap mitos angka 13, langkah Muhammadiyah membangun dan menamai gedung mereka dengan angka tersebut adalah tindakan yang luar biasa berani. Ini bukan sekadar tentang arsitektur; ini adalah deklarasi teologis.

Sebagai gerakan purifikasi (pemurnian) akidah yang didirikan pada 1912, misi utama Muhammadiyah sejak awal adalah membebaskan umat dari praktik-praktik takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC) yang telah mencemari kemurnian tauhid. Gerakan ini tidak berhenti di mimbar-mimbar dakwah, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata yang mengubah wajah masyarakat.

K.H. Tafsir, pimpinan PWM Jawa Tengah, pernah menegaskan: “Kekuatan tauhid mengalahkan mitos horor apa pun.” Pernyataan ini mencerminkan keyakinan mendasar bahwa seseorang yang benar-benar meyakini keesaan Allah tidak akan pernah takut pada sesuatu yang tidak memiliki daya dan kekuatan, apalagi sekadar sebuah angka.

Dalam perspektif Islam, praktik tathayyur termasuk perbuatan yang dilarang karena bertentangan dengan akidah tauhid dan menunjukkan kurangnya tawakal kepada Allah. Bahkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad bersabda:

“Siapa orang yang membatalkan keperluannya karena thiyarah (sangkaan bahwa dia akan sial), maka sungguh orang itu telah berbuat syirik.”

Hadis ini sangat relevan dengan fenomena global menghindari angka 13. Ketika seseorang membatalkan perjalanan, urusan bisnis, atau bahkan pembelian properti hanya karena takut pada sebuah angka, ia telah melakukan tindakan yang dilarang dalam Islam. Perilaku seperti ini mencerminkan iman yang lemah, di mana seseorang lebih percaya pada “kekuatan magis” sebuah simbol daripada tawakal kepada Allah SWT.

Dalam hadis yang sama, Rasulullah SAW juga mengajarkan doa kafarah (penebus) bagi mereka yang terjerumus dalam thiyarah:

“Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, tidak ada kesialan kecuali kesialan-Mu (yang Engkau takdirkan), dan tidak ada sesembahan yang benar selain Engkau.”

Doa ini menjadi pengingat bahwa segala yang terjadi—baik dianggap baik maupun buruk oleh manusia—pada hakikatnya berasal dari Allah. Tidak ada peristiwa yang “sial” atau “beruntung” dalam dirinya sendiri; makna itu hanya konstruksi sosial tanpa kuasa nyata.


Dialog Lintas Agama dan Budaya: Akar Ketakutan yang Sama

Menarik untuk dicermati bahwa keyakinan tentang angka sial ini tidak hanya ditemukan dalam budaya Barat. Di beberapa negara Asia Timur, angka 4 dihindari karena pelafalannya mirip dengan kata “kematian”—sehingga banyak rumah sakit dan hotel di China, Jepang, dan Korea juga menghilangkan angka 4 dari penomoran lantai dan kamar.

Fenomena ini menunjukkan pola antropologis yang universal: manusia cenderung mencari pola dan makna di tengah ketidakpastian. Namun, di sinilah letak perbedaan mendasar antara pendekatan Islam dan kepercayaan-kepercayaan lokal tersebut.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa tathayyur adalah warisan kebiasaan kaum jahiliyah yang harus ditinggalkan. Tidak ada konsep “hari sial,” “bulan sial,” atau “angka sial” dalam ajaran Islam. Semua hari dan waktu adalah ciptaan Allah SWT yang tidak memiliki kekuatan intrinsik untuk membawa kesialan, kecuali jika Allah menghendakinya.

Dalam pandangan Muhammadiyah, pemurnian akidah berarti membuang segala bentuk keyakinan yang tidak bersumber dari Al-Qur’an dan hadis sahih. Ketika sebuah hotel global menghilangkan lantai 13 demi mengakomodasi ketakutan tamu-tamunya, itu mungkin dianggap sebagai kebijakan bisnis yang pragmatis. Namun ketika seorang Muslim ikut-ikutan menghindari angka 13 karena takut sial, maka ia telah melakukan tindakan yang mendekati syirik.


Pelajaran untuk Indonesia: Dari Takhayul ke Tauhid

Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, masih menghadapi tantangan besar dalam memberantas praktik-praktik takhayul dan khurafat di tengah masyarakat. Kepercayaan terhadap hari baik, weton, primbon, hingga “angka sial” masih mengakar kuat di berbagai lapisan masyarakat, bahkan seringkali dibalut dengan narasi keislaman yang keliru.

Tindakan Muhammadiyah membangun gedung 13 lantai bukan sekadar simbol perlawanan terhadap mitos global, tetapi juga pengingat bahwa tauhid harus diwujudkan dalam setiap aspek kehidupan. Bukan hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam cara kita memandang realitas, membuat keputusan, dan membangun peradaban.

Ketika Muhammadiyah menamai menara rumah sakitnya sebagai “Ibrahim Tower” setinggi 13 lantai—di tahun 2026—mereka secara efektif menyatakan bahwa angka hanyalah angka. Ia tidak memiliki kekuatan untuk menyembuhkan pasien atau membawa malapetaka. Kesembuhan datang dari Allah melalui proses medis yang ilmiah, bukan dari keberuntungan numerik.

Inilah pesan yang ingin disampaikan: Islam adalah agama yang mengajak umatnya untuk berpikir rasional, bertawakal kepada Allah, dan tidak gentar pada mitos-mitos kosong. Di tengah dunia yang masih terjebak dalam ketakutan kolektif terhadap angka 13, langkah Muhammadiyah mengingatkan kita bahwa akal sehat dan keteguhan iman adalah kombinasi yang ampuh untuk membebaskan peradaban dari belenggu takhayul.

Sebuah angka hanyalah angka. Tidak lebih. Kebaikan dan kesialan semata-mata berasal dari Allah, dan hanya kepada-Nya kita bertawakal.

Ksatria

Penjaga peradaban di era kode menjadi bahasa kekuatan dan teknologi menjadi benteng kedaulatan. Kami hadir digaris depan revolusi teknologi ⚔️💻🇮🇩

Related Posts

Bahayanya Kenyamanan Palsu

Kisah Tikus, Toples Beras, dan Lalainya Hati “Seekor tikus menemukan sesuatu yang tak pernah dipahami kebanyakan eksekutif. Sayangnya, ia memahaminya terlalu lambat.” Ada kisah lama yang sering diceritakan dalam pelatihan…

Keadilan Allah yang Terpancar dari Makhluk Terkecil

Lembah Sulaiman – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering melupakan detail-detail kecil, Al-Qur’an menghadirkan sebuah adegan yang luar biasa: seekor semut yang berbicara, dan seorang raja sekaligus nabi yang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Galeri Produk Uniqu

Platform Analisis Big Data

  • By Ksatria
  • Maret 23, 2026
  • 26 views
Platform Analisis Big Data

Platform Export Intelligence

  • By Ksatria
  • Maret 20, 2026
  • 43 views
Platform Export Intelligence

Platform Spatial Trade Intelligence

  • By Ksatria
  • Maret 20, 2026
  • 29 views
Platform Spatial Trade Intelligence

Drone Pertanian U`Q

  • By Ksatria
  • Maret 19, 2026
  • 51 views
Drone Pertanian U`Q

Drone Militer DIPO

  • By Ksatria
  • Maret 19, 2026
  • 30 views
Drone Militer DIPO

3 in 1 Smart Device

  • By Ksatria
  • Maret 19, 2026
  • 23 views
3 in 1 Smart Device