Jakarta – Keberhasilan Lynas Rare Earths memproduksi samarium oksida di fasilitasnya di Gebeng, Malaysia, pada Maret 2026, tidak hanya menjadi pencapaian industri, tetapi juga menegaskan perubahan besar peta geopolitik mineral global. Di tengah upaya Amerika Serikat dan sekutunya memutus dominasi China, Asia Tenggara muncul sebagai frontier baru dalam perebutan rantai pasok mineral strategis .
Lynas mengumumkan telah memulai produksi samarium oksida, sebuah logam tanah jarang berat yang krusial untuk magnet berkinerja tinggi di industri elektronik, kedirgantaraan, hingga sistem pertahanan. Produksi ini lebih cepat dari target awal April dan melengkapi portofolio oksida tanah jarang berat Lynas setelah sebelumnya memproduksi disprosium dan terbium .
“Pencapaian ini merupakan tonggak penting bagi Lynas dan menunjukkan keahlian serta kapabilitas tim internal kami, yang unik di luar China,” ujar CEO Lynas, Amanda Lacaze, dalam pernyataannya . Keberhasilan ini memperkuat posisi Malaysia sebagai satu-satunya produsen komersial tanah jarang yang terpisah di luar China .
Fasilitas Lynas di Malaysia pun semakin strategis setelah Divisi Perang AS (US Department of War) menandatangani letter of intent untuk membeli oksida tanah jarang senilai US$96 juta selama empat tahun. Kesepakatan ini menggantikan kontrak sebelumnya yang terkait dengan pembangunan pabrik di Texas yang tertunda, dan memastikan pasokan untuk basis industri pertahanan AS tetap aman .
ASEAN: Antara Kekayaan Geologi dan Ambisi Hilirisasi
Kawasan ASEAN tidak hanya menjadi lokasi pemrosesan. Secara geologis, Asia Tenggara dianugerahi kekayaan mineral yang luar biasa. Data survei geologi AS menunjukkan gabungan produksi tambang tanah jarang dari Malaysia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam mencapai 11,4 persen dari output global pada 2024. Selain itu, ASEAN menguasai 46 persen cadangan nikel dunia dan 22 persen bauksit, yang menjadi bahan baku utama industri baterai kendaraan listrik (EV) dan teknologi hijau .
Namun, selama ini negara-negara ASEAN lebih banyak berperan sebagai pemasok bahan mentah, sementara teknologi pemrosesan dan pemurnian bernilai tambah tinggi masih dikuasasi China. Kini, situasi itu mulai berubah dengan adanya kebijakan hilirisasi di sejumlah negara.
Indonesia, misalnya, bergerak agresif. Pemerintah baru-baru ini mengidentifikasi delapan blok tambang yang memiliki potensi besar unsur tanah jarang (LTJ) di Kalimantan, Sulawesi, dan Bangka Belitung. Untuk mengelola aset strategis ini, dibentuk badan usaha milik negara khusus bernama Perminas .
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, menegaskan bahwa Indonesia tetap teguh pada kebijakan hilirisasi. “Mereka yang mengincar sektor mineral kami harus berinvestasi dalam pemrosesan, karena undang-undang kami melarang ekspor produk mentah,” tegasnya. Pemerintah menargetkan investasi hingga Rp13.000 triliun untuk mendukung hilirisasi 28 komoditas strategis dalam lima tahun ke depan .
Langkah ini diyakini sebagai kunci bagi Indonesia untuk lepas dari ketergantungan dan menjadi pemain utama, bahkan bercita-cita menjadi “OPEC-nya rare earth” dengan mengontrol pasokan dan harga regional .
Sementara itu, Malaysia tidak tinggal diam. Pemerintah telah melarang ekspor bahan mentah tanah jarang untuk mendorong investasi teknologi pemrosesan di dalam negeri. Lynas sendiri baru saja mendapatkan perpanjangan lisensi 10 tahun di Malaysia, meski dengan kondisi lebih ketat terkait pengelolaan limbah radioaktif . Para pakar mendesak Malaysia untuk segera mengembangkan kemampuan pemurnian dan daur ulang agar tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah .
Vietnam dan Myanmar juga menyimpan cadangan besar, namun konflik politik dan keterbatasan teknologi membuat eksploitasi sumber daya di kedua negara tersebut belum optimal. Myanmar bahkan tercatat sebagai pemasok utama heavy rare earth bagi industri China, menyumbang 60-87 persen impor tanah jarang China dalam beberapa tahun terakhir .
Medan Tarik Ulur Raksasa Geopolitik
Bangkitnya sektor tanah jarang di ASEAN menjadikan kawasan ini ajang persaingan sengit antara Amerika Serikat dan China. Beijing selama ini mendominasi dengan menguasai 69 persen produksi tambang global dan 92 persen kapasitas pemurnian, menjadikannya chokepoint utama industri teknologi global .
Sementara AS dan Uni Eropa gencar menjalin kesepakatan dagang dengan negara-negara ASEAN untuk membangun rantai pasok alternatif yang lebih “amann” atau friend-shoring. Sepanjang 2025, AS menandatangani kesepakatan untuk mempercepat pengembangan mineral kritis dengan Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Kamboja, serta mencapai kesepakatan dagang dengan Indonesia .
Namun, China tidak tinggal diam. Investasi China menguasai 69,9 persen kapasitas pemurnian nikel Indonesia pada 2024. Di Malaysia, perusahaan China juga telah bermitra untuk mengekstrak tanah jarang di negara bagian Perak sejak 2022 .
“ASEAN saat ini menjadi arena tarik tambang antara China dan AS, tetapi bagi kami di kawasan, ini tentang pembangunan ekonomi,” ujar Mirza Sadaqat Huda, peneliti senior di ODI Global, Singapura. Ia menekankan bahwa negara ASEAN tidak harus memilih salah satu pihak, melainkan berkolaborasi dengan semua mitra utama untuk mengembangkan mineral kritis .
Menuju “Sabuk Mineral Strategis” Baru
Sejumlah analis dan peneliti melihat potensi besar ASEAN bertransformasi menjadi geopolitical mineral belt yang menghubungkan Australia sebagai sumber tambang, ASEAN sebagai pusat pengolahan, serta Jepang, Korea, dan Barat sebagai pusat manufaktur teknologi tinggi.
Penelitian terbaru dari Murdoch University yang dimuat dalam buku Critical Minerals Supply Chains Security and Resiliency in the ASEAN (2026) menyimpulkan bahwa ASEAN berpotensi menjadi pemasok utama logam magnet kritis untuk EV dan turbin angin. Namun, pencapaian itu membutuhkan investasi berkelanjutan dalam pertambangan ramah lingkungan, kapasitas pemurnian regional, dan kolaborasi lintas batas .
Ketua Asosiasi Metalurgi dan Material Indonesia (AMMI), Askar Triwiyanto, PhD, menambahkan bahwa penguasaan teknologi pemisahan (separation) yang masih kompleks dan mahal menjadi tantangan utama Indonesia. Saat ini, Indonesia masih bergantung pada alih teknologi asing untuk memurnikan konsentrat tanah jarang menjadi produk jadi .
Dengan segala potensi dan tantangannya, langkah hilirisasi yang diambil negara-negara ASEAN akan menentukan apakah kawasan ini hanya akan menjadi penonton atau justru menjadi episentrum baru geopolitik mineral abad ke-21, di mana mineral kritis memainkan peran sepenting minyak pada abad sebelumnya.








