Mengapa Tim Komunikasi “Superman” Justru Membuat Organisasi Boncos
Jakarta – Di zaman di mana informasi bergerak secepat sentuhan layar, banyak organisasi di Indonesia—dari yayasan sosial, perusahaan rintisan, hingga kementerian—masih percaya pada satu mitos ..
“Cukup satu anak komunikasi saja, dia bisa ngurus semuanya.”
Satu orang ditugaskan menulis siaran pers, mengelola medsos, membuat laporan donatur, merespons krisis, menjalin hubungan media, menyusun strategi branding, plus dokumentasi acara. Gajinya satu, tapi tanggung jawabnya lima sampai tujuh fungsi sekaligus.
Kelihatannya irit, kan? Ternyata, ini adalah jebakan biaya tersembunyi yang paling jarang disadari para pimpinan organisasi.
“Generalist” Bukan Solusi, Tapi Masalah
Para praktisi komunikasi menyebut fenomena ini sebagai one-person comms team. Dalam studi informal dan pengalaman lapangan, setidaknya ada lima pilar utama komunikasi modern yang idealnya dipegang oleh keahlian berbeda:
- Komunikasi strategis – yang menentukan narasi besar dan posisi organisasi.
- Komunikasi donatur/pemangku kepentingan – yang mengelola hubungan dan laporan dampak.
- Komunikasi programatik – yang menerjemahkan data lapangan jadi cerita bermakna.
- Hubungan eksternal dan media – yang membangun kredibilitas, terutama saat krisis.
- Digital dan konten – yang mengelola algoritma, engagement, dan konversi.
Ketika kelima fungsi ini dipaksakan ke satu orang, yang terjadi bukan efisiensi, melainkan efisiensi semu.
Tiga Kerugian Tak Terlihat yang Menguras Anggaran
1. Messaging jadi reaktif, bukan strategis
Tanpa waktu untuk merencanakan narasi, si “superman” komunikasi hanya akan merespons kejadian—bukan membentuk opini. Akibatnya, organisasi selalu ketinggalan momen. Saat krisis datang, pesan yang keluar amburadul. Reputasi jeblok, butuh biaya besar untuk memulihkannya.
2. Peluang penting berhamburan
Pernahkah organisasi kehilangan calon donatur besar karena laporan dampak tidak pernah dikirim? Atau proposal kerja sama tidak selesai karena sang komunikator sibuk membuat konten TikTok? Satu orang yang kewalahan akan tanpa sadar mengabaikan peluang emas. Padahal, satu donatur korporat bisa bernilai ratusan juta per tahun.
3. Burnout meningkat, dampak menurun
Data dari berbagai survei internal menunjukkan bahwa one-person comms team adalah salah satu posisi dengan tingkat kelelahan tertinggi. Produktivitas turun drastis setelah bulan ke-6. Dan ketika orang itu mengundurkan diri—yang biasanya cepat terjadi—organisasi kehilangan seluruh pengetahuan, kontak media, dan aset komunikasi sekaligus. Biaya rekrutmen ulang dan opportunity loss bisa tiga kali lipat gaji tahunannya.
Lalu, Solusinya Harus Tim Sebanyak Apa?
Tidak perlu langsung lima orang. Yang diperlukan adalah arsitektur fungsi, bukan sekadar jumlah kepala. Organisasi bisa memulai dengan:
- Memisahkan peran strategi dari eksekusi teknis.
- Meng-outsource fungsi tertentu (misal produksi video atau media monitoring) ke agensi lepas.
- Membangun shared service komunikasi antar-proyek dalam satu lembaga induk.
Yang terpenting: mengakui bahwa komunikasi bukanlah side job atau tugas tambahan. Ia adalah sistem strategis. Jika arsitekturnya benar, maka pendanaan, pengaruh, dan dampak akan tumbuh. Jika salah, biaya tersembunyinya akan menggerogoti organisasi perlahan-lahan.
Jangan Cari Superman, Bangun Tim
Di era keterbukaan informasi dan tingginya ekspektasi publik, tidak ada satu manusia pun yang bisa menjadi pakar media relations, ahli strategi narasi, manajer medsos, dan penulis laporan donatur sekaligus—dengan hasil luar biasa.
Organisasi yang cerdas tidak mencari pahlawan super. Mereka membangun sistem. Karena pada akhirnya, komunikasi yang efektif adalah olahraga tim, bukan aksi solo.
Sudah saatnya para pimpinan organisasi di Indonesia menghitung ulang “efisiensi” yang selama ini mereka banggakan. Karena di balik satu kursi komunikasi yang terlalu penuh, ada banyak uang dan kepercayaan yang diam-diam kabur.








