Damaskus – Dalam sebuah peristiwa yang mencengangkan dunia, seorang pria yang namanya pernah masuk dalam daftar buronan paling dicari Amerika Serikat dengan hadiah $10 juta, kini berdiri di podium Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia bukan sebagai tersangka, melainkan sebagai kepala negara. Ahmed al-Sharaa, yang dikenal pula dengan nom de guerre Abu Mohammad al-Julani, baru saja menorehkan sejarah dengan pidato pertamanya sebagai Presiden Suriah di hadapan forum global, mengakhiri absennya negara itu dari panggung tertinggi PBB sejak 1967.
Perjalanan al-Sharaa adalah narasi tentang transformasi yang ekstrim—sebuah perjalanan yang kontradiktif namun menawarkan secercah harapan bagi negara yang porak-poranda akibat hampir 14 tahun perang saudara.
Akar Radikal dan Titik Balik
Lahir di Riyadh, Arab Saudi, pada 1982, al-Sharaa tumbuh sebagai pribadi pendiam yang semangat perjuangannya terpicu oleh Intifada Kedua Palestina. Namun, jalan yang ditempuhnya membawanya pada pilihan radikal. Pada 2003, ia bergabung dengan Al Qaeda di Irak untuk melawan invasi Amerika Serikat, sebuah periode yang kemudian membuatnya ditangkap dan mendekam di penjara selama lima tahun.
Setelah bebas, ia kembali ke Suriah dan mendirikan Front al-Nusra, cabang Al Qaeda yang menjadi kekuatan dominan dalam perang melawan rezim Bashar al-Assad. Saat itulah AS mencapnya sebagai teroris global.
Namun, titik balik besar terjadi pada 2016. al-Sharaa secara mengejutkan memisahkan diri dari Al Qaeda dan membentuk Hayat Tahrir al-Sham (HTS. Langkah ini diikuti dengan transformasi pribadi yang radikal. Ia melepas sorban yang selama ini menjadi identitasnya, menggantinya dengan setelan militer dan kemudian jas rapi. Ia tidak lagi berbicara tentang jihad global, melainkan tentang membangun institusi, melindungi minoritas, dan menyediakan layanan sipil di wilayah Idlib yang menjadi basisnya. Transformasi ini mencapai puncaknya pada Desember 2024, ketika HTS melancarkan serangan kilat yang menggulingkan rezim Assad, mengakhiri kekuasaan dinasti yang telah berlangsung selama lima dekade.
Diakui Dunia: Dari Musuh Menjadi Mitra
Kepemimpinan al-Sharaa yang ekstrim—dari garis keras menjadi negarawan—mulai mendapat pengakuan internasional yang tak terbayangkan beberapa tahun lalu. Baru-baru ini, ia bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Riyadh. Dalam pertemuan yang juga dihadiri Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman itu, al-Sharaa berjabat tangan dan berdiri sejajar dengan pemimpin negara yang dulu memasang hadiah di kepalanya. Trump sendiri memujinya sebagai “pria muda yang menarik dan pejuang tangguh dengan peluang nyata untuk menstabilkan Suriah.”
Pertemuan tersebut menandai pergeseran kebijakan AS yang signifikan, yang kini tengah membahas pencabutan sanksi dan normalisasi hubungan dengan pemerintah baru Suriah.
Pidato Bersejarah: “Kami Menulis Babak Baru”
Momen paling simbolis dari transformasi ini terjadi pada Rabu (lusa), ketika al-Sharaa menyampaikan pidato di Majelis Umum PBB. Dalam pidato singkatnya yang berdurasi kurang dari sembilan menit, ia dengan tegas meninggalkan retorika masa lalunya dan merangkul visi kenegaraan modern.
“Suriah saat ini sedang membangun kembali dirinya sendiri, dan sebagai negara beradab, ia layak menjadi negara hukum,” ujar al-Sharaa di hadapan para pemimpin dunia.
Ia mendeklarasikan bahwa Suriah sedang “menulis babak baru dalam sejarahnya, yang diberi judul perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan.” Dengan berani, ia mengutuk keras rezim sebelumnya, menyebutkan secara rinci penggunaan bom barel, senjata kimia, hingga penyiksaan yang mengakibatkan hampir satu juta jiwa melayang dan 14 juta orang terusir.
Yang menarik, al-Sharaa berjanji untuk menghormati Perjanjian Pelepasan 1974 dengan Israel dan menyerukan masyarakat internasional untuk menghormati kedaulatan wilayah Suriah—sebuah pernyataan yang mencerminkan kedewasaan politik yang kontras dengan latar belakangnya.
Di akhir pidato, ia menyampaikan terima kasih kepada negara-negara yang mendukung perjuangan rakyat Suriah, menyebut Turkiye, Qatar, Arab Saudi, Amerika Serikat, dan Uni Eropa sebagai mitra.
Harapan di Tengah Ketidakpastian
Kisah Ahmed al-Sharaa adalah salah satu yang paling ekstrim dalam geopolitik modern: dari seorang buronan teroris yang menghadapi invasi AS di Irak, menjadi pemimpin transisi Suriah yang berbicara tentang perdamaian dan pembangunan di PBB. Ia tiba di New York bersama para menterinya, mengakhiri hampir enam dekade absennya Suriah dari pertemuan puncak badan dunia tersebut—sebuah simbol kebangkitan dan rekonsiliasi.
Meski skeptisisme masih menyelimuti masa depan Suriah, al-Sharaa telah menunjukkan bahwa kepemimpinan ekstrim tidak selalu berarti kekerasan tanpa akhir. Baginya, ekstrim adalah berani berubah secara radikal. Ekstrim adalah berani mengubur masa lalu untuk membangun masa depan. Dan di tengah puing-puing kehancuran, ia menawarkan sebuah janji: “Melalui kemenangan ini, Suriah telah bertransformasi dari negara yang mengekspor krisis menjadi peluang bersejarah untuk membangun stabilitas, perdamaian, dan kesejahteraan bagi Suriah dan seluruh kawasan.”
Kini, dunia menyaksikan apakah “babak baru” yang ia tulis akan menjadi kisah kebangkitan bangsa, atau sekadar babak lain dari drama panjang Timur Tengah. Untuk saat ini, transformasi pribadi al-Sharaa telah menjadi inspirasi tentang bagaimana seorang pemimpin dapat menavigasi perubahan paling kontradiktif demi meraih stabilitas bagi negaranya.








