Filosofi Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung
Kebun Kota – Dulu, saya pikir menjadi pebisnis internasional itu seperti membawa peta dari rumah. Kita buat rencana sebaik mungkin, hitung untung rugi, susun strategi pemasaran, lalu tinggal eksekusi. Tapi pengalaman bertahun-tahun mengajarkan saya bahwa peta terbaik sekalipun tidak akan berguna jika kita tidak mau belajar cara membaca langit di tempat yang baru.
Ada satu peribahasa kampung yang terus terngiang di setiap perjalanan saya: Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kelihatannya sederhana, tapi maknanya luar biasa dalam. Bagi saya, itu bukan hanya soal sopan santun atau menyesuaikan diri. Itu adalah kunci sukses bisnis lintas negara. Karena ketika kita memijak bumi orang lain, aturan mainnya bukan lagi milik kita. Langit yang mereka junjung—nilai, kebiasaan, cara kerja mereka—itulah yang harus kita hormati.
Saya ingat satu kejadian yang membuat saya benar-benar meresapi filosofi ini. Waktu itu saya diundang ke sebuah pertemuan bisnis di Dubai. Saya datang tepat waktu, dengan laptop dan presentasi siap. Tapi mitra lokal saya justru mengajak minum kopi lebih dulu. Satu jam berlalu, belum ada bahasan kontrak. Dua jam kemudian, mereka bertanya tentang keluarga saya. Saya agak gelisah karena jadwal rapat hanya tiga jam. Namun saya memilih untuk ikut mengalir. Saya tidak memaksakan agenda saya. Saya menjunjung langit mereka—yang mengutamakan hubungan personal sebelum transaksi.
Hasilnya? Di akhir pertemuan, mereka berkata, “Kami suka cara Anda. Besok kita tanda tangan kontrak.” Padahal secara teknis, saya belum mempresentasikan apa pun. Mereka sudah mengambil keputusan berdasarkan kenyamanan dan kepercayaan yang terbangun saat minum kopi. Bagi saya yang terbiasa dengan efisiensi ala Jakarta, ini pengalaman membuka mata. Bumi di sana berbeda. Langit di sana berbeda. Dan saya memilih untuk menjunjungnya, bukan melawannya.
Sebaliknya, saya pernah melihat rekan bisnis yang gagal karena mengabaikan prinsip ini. Sebuah perusahaan Indonesia mengirim manajer ke Jerman untuk negosiasi kerjasama. Manajer itu ramah, banyak senyum, dan suka basa-basi sebelum bicara serius. Dia pikir itu cara yang sopan. Tapi mitra Jermannya justru merasa waktu terbuang. Mereka bertanya, “Kapan kita mulai bicara angka?” Di Jerman, langit yang dijunjung adalah ketepatan waktu, efisiensi, dan keterusterangan. Basa-basi yang panjang dianggap tidak profesional. Pertemuan itu berakhir tanpa hasil. Bukan karena produknya jelek, tapi karena cara menjajakkan kaki tidak sesuai dengan bentuk bumi di sana.
Dari situlah saya semakin yakin bahwa business plan yang solid dan pemahaman budaya itu seperti dua kaki. Satu kaki tidak bisa melangkah tanpa yang lain. Dan filosofi “bumi dipijak, langit dijunjung” adalah otot yang membuat kedua kaki itu bergerak harmonis.
Buku The Culture Map karya Erin Meyer membantu saya memahami hal ini secara sistematis. Buku itu menunjukkan bahwa setiap budaya memiliki porosnya sendiri—misalnya, seberapa langsung seseorang menyampaikan kritik, atau seberapa penting hubungan dibandingkan aturan. Orang Belanda menjunjung langit keterusterangan: mereka bilang “tidak” dengan jelas. Orang Jepang menjunjung langit harmoni: mereka bilang “mungkin” yang artinya “tidak”. Tidak ada yang salah. Hanya berbeda. Dan ketika kita memijak bumi mereka, kewajiban kitalah untuk menyesuaikan cara bicara, cara negosiasi, bahkan cara berpakaian dan cara tersenyum.
Saya pernah bekerja dengan tim dari India. Di sana, menggelengkan kepala bisa berarti “iya” tergantung konteksnya. Saya sempat kebingungan. Tapi begitu saya memutuskan untuk menjunjung langit mereka—dengan bertanya, mengamati, dan tidak cepat menyimpulkan—hubungan kami menjadi luar biasa baik. Mereka bahkan bilang, “Kamu seperti orang India.” Itu pujian tertinggi bagi saya.
Tentu saja, menjunjung langit orang lain bukan berarti menghilangkan jati diri. Saya tetap orang Indonesia yang membawa nilai gotong royong dan kekeluargaan. Tapi saya belajar untuk tidak memaksakan nilai itu di tempat yang tidak cocok. Di Swiss, saya tidak akan mengajak mitra bisnis makan siang tiga jam karena mereka menganggap itu pemborosan waktu. Di Arab Saudi, saya tidak akan langsung bicara soal harga di menit pertama karena itu dianggap kasar. Di Korea Selatan, saya akan membungkuk sedikit lebih dalam saat menyapa senior. Bukan karena saya menjadi orang lain, tapi karena saya menghormati langit yang mereka junjung.
Pada akhirnya, bekerja secara internasional mengajarkan saya bahwa kesuksesan bukan hanya tentang seberapa pintar kita, tetapi seberapa rendah hati kita. Rencana bisnis yang tebal dan rumit tidak akan berarti jika kita tidak mau mendengar, tidak mau mengamati, dan tidak mau mengakui bahwa cara kita bukan satu-satunya cara. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Itu bukan sekadar pepatah. Itu adalah panduan hidup yang membuat kita tidak hanya sukses secara bisnis, tetapi juga dihormati sebagai manusia.
Jadi, jika Anda ingin melangkah ke panggung global, bawalah rencana bisnis yang matang. Tapi lebih dari itu, bawalah hati yang terbuka. Dan ingatlah selalu: setiap kali kaki Anda menginjak tanah baru, lihat ke atas. Di sanalah langit yang harus Anda junjung, dan Pemilik Langit yang lebih Mengetahui Kapan dan Dimana anda akan Berjuang. Karena di sanalah kunci keberhasilan Anda sesungguhnya berada.








